Takdir Buku “Kai Food: Membangun Bisnis dari Nol”

oleh
Acara bedah buku Kai Food: Membangun Bisnis dari Nol
Acara bedah buku Kai Food: Membangun Bisnis dari Nol

 

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Oleh Gatot Susanto

KATA-kata sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu mirip Syayyidina Ali radhiyallahuan: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Maka, ketika saya mendapat WA penawaran beli buku dari Pak Raimy Sofyan, saya langsung meresponnya. Padahal Beliau baru saja rampung menulis buku KAI FOOD: MEMBANGUN BISNIS DARI NOL itu. Belum menerbitkannya. Buku masih dalam proses cetak. Artinya, belum ada buku fisiknya. Mengapa saya langsung membeli buku yang masih dalam proses “persalinan” tersebut?

Yang, pertama, ini apresiasi atas semangat Beliau dalam menulis buku. Bukan seperti dikatakan Pran, agar tidak ingin hilang dalam masyarakat, tapi lebih karena Beliau ingin seperti dikatakan Syayyidina Ali, mengikat ilmu yang didapatkan dari pengalaman panjang sebagai bankir dan profesi lain, agar ikatan ilmu itu bisa berguna bagi masyarakat.

Bahkan, Beliau, tak hanya menuliskannya dalam bentuk buku, tapi juga bersemangat memasarkannya. Ini juga berbeda dari Pram. Sastrawan asal Blora itu berkeyakinan bahwa buku seperti manusia. Pram hanya menulis buku saja. Saat lahir, buku punya takdir sendiri. Pram tidak berpikir apa bukunya akan best seller, tidak ada yang membaca, atau malah dibreidel rezim. Dia tak peduli. Dia terus saja menulis buku. Sebab buku punya takdirnya sendiri.

Sebaliknya, Pak Raimy Sofyan tidak perlu menunggu takdir bukunya. Beliau, dengan ilmu marketingnya, langsung memetakan pasar sebelum buku itu dilahirkan. Misalnya Selasa, 4 Juni 2024 merupakan hari bersejarah bagi Kai Food dengan selesainya naskah buku KAI FOOD: Membangun Bisnis dari Nol, dan siap dicetak di Kota Yogyakarta.

Beberapa minggu sebelumnya di Kota Bandung, Mas Bambang Trim, seorang penulis 300+ buku dan editor ribuan buku sebagai penerbit buku itu bersama staf CV Penulis Profesional Indonesia melakukan pemeriksaan dan perbaikan akhir, saat proses itu Beliau sudah mencari pasar.

Berapa oplahnya? Kai–panggilan akrab Pak Raimy —hanya berani memperkirakan oplah 100 buku saja yang mampu dicetak dan dipasarkan. Untuk memastikannya agar satu kali pencetakan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembaca, maka hari Jumat, 19 April 2024, Kai mulai menyebarkan penawaran melalui WA dan postingan di Facebook.

“Setengah hari alhamdulillah sudah dipesan 24 buku,” laporan Kai kepada Mas Bambang Trim. Hari Minggu, 21 April 2024, Kai mengabari lagi, “Alhamdulillah, sudah 78 buku dipesan. Penambahan realistis adalah menjadi 150 buku yang harus dicetak,” ungkap Kai.

Mas Bambang pun kelihatannya senang, “Alhamdulillah Pak, luar biasa.”

Rabu 24 April 2024, Kai melapor lagi, “Sudah terpesan 116 buku. Kayaknya masih realistis dan optimistis kita cetak 200 buku, Mas.”

“Bisa beli di mana?”, tanya Mbak Habibah dengan penuh minat, “ke WA saya yang tertulis di poster dan narasi,” jawab Kai cepat.

“Siap, saya mau bukunya 1,” jawab Mbak Habibah tak kalah cepatnya. Mbak Habibah menjadi 1 dari 62 orang yang memesan dan membayar lunas 132 buku dalam kurun waktu seminggu sampai Kamis, 25 April 2024. Rata-rata yang melihat penawaran membeli lebih dari 2 buku per orang, dan terbanyak membeli lunas langsung transfer 20 buku. Seperti saya, mereka antusias membeli buku ini lantaran melihat isinya yang mantap.

Pada hari Kamis yang sama, Kai menyetujui usulan judul alternatif, KAI FOOD: Membangun Bisnis dari Nol. “KAI FOOD jadi lebih menonjol tanpa gangguan kata pengalaman atau legasi. Penegasan ‘dari nol’ relevan dengan kondisi UMKM yang memulai dari nol,” kata Kai coba meyakinkan diri sendiri tentang tepatnya judul baru ini.

Lalu ada yang bertanya apa tidak diterbitkan penerbit major? Penerbit ternama seperti Gramedia atau Kompas? Kai yang penasaran bertanya ke Mas Bambang.

“Selamat pagi, ada yang nanya apa buku ini dijual di Gramedia. Gimana caranya dapat menjual di sana?”

“Tidak Pak. Kalau masuk Gramedia minimal cetak 2.000 dan itu diserahkan semua ke Gramedia Pusat. Selain itu, mereka mengenakan diskon 45%. Kalau lewat distributor, mereka pasti minta 50%,” jawab Mas Bambang Trim. Wah, gawat!

Dalam kurun waktu sebulan, Jumat, 17 Mei 2024 terjual lunas 306 buku. Dengan dana penjualan lunas ini maka pada Kamis, 16 Mei 2024 Kai melunasi semua biaya penerbitan dan pencetakan oplah 600 buku. Ketika penjualan belum mencapai 300 buku pada 26 April 2024 Kai menyatakan harapan, “Mas Bambang, saya berharap mampu 300 agar bisa marathon bukan sprint.” Mas Bambang Trim coba meyakinkan Kai, “baik siap Pak, kemungkinan nyampai Pak.”

Dengan oplah 600 buku maka ini sebuah “long marathon” memasarkan buku ini melalui pembelian langsung maupun pelatihan-pelatihan masa persiapan pensiun dan pelaku UMKM.

“Hari ini saya akan mengirim pesan WA kepada seluruh pembeli bahwa percetakan akan mengirim buku pada 12 Juni 2024. Seterimanya di Jakarta saya akan segera kirim pakai jasa Tiki Eco. Ini untuk menjelaskan dan meminta maaf terjadinya keterlambatan. Yang saya kasih gratis pun sebagai hadiah gak sabaran menunggu, apalagi yang sudah membayar sejak 19 April 2024, hampir 2 bulan,” ujar Kai bersimpati.

“Siap Pak, memang bukunya bagus Pak,” puji Mas Bambang Trim.

Hari Jumat, 14 Juni 2024 sebanyak 256 buku berhasil dikirim dengan Tiki Eco kepada 128 pembeli.  Sebelumnya pada Rabu, 12 Juni 2024, 100 buku dikirim dengan cargo port-to-port dari Yogya ke Samarinda. Hampir 60% dari total 600 buku sudah dikirim kepada pembeli.

Alhamdulillah.

“Kita bikin kupas buku Mas Raimy di Dipuri aja,” ajak Uni Andam Dewi pada waktu memesan 5 buku di akhir bulan April 2024 itu.

Uni Ian, biasa Kai memanggilnya sejak sama-sama kerja di Avon dan Mbak Titi Wiyati berkolaborasi membangun Dipuri Coffee & Roastery sejak Juli 2021, pas 3 tahun lalu. Kupas buku? Ya, biasanya disebut bedah buku.

“Bedah buku, kapan? Mbak Lucy Kusman bersedia sebagai reviewer.”

Mbak Lucy Kusman sebagai Self Transformation Coach dan penulis buku METAMOREPROCESS adalah orang yang sangat tepat mengupas buku tentang transformasi Kai selama 10 tahun ini. Akhirnya disepakati Book Review KAI FOOD: Membangun Bisnis dari Nol diadakan pada hari Kamis, 18 Juli 2024 lalu di Dipuri Coffee & Roastery di Jalan Puri Mutiara Raya 3B, Cipete Selatan, Jakarta Selatan. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ketiga café yang sangat cozy ini. Skenario bedah buku pun dirancang.

“Bang Raimy pagiiii …. Aku rencananya mau bikin gini dari jam 3—5 sore teh: (1) Pembukaan dan salam dari Abang 15 mnt; (2) Aku tanya ekspektasi audience dan ngobrol-ngobrol di awal 15 mnt; (3) Mulai bedah buku dengan MOREnya aku dikaitkan ke buku Abang: Mindset 15 mnt, Options 15 mnt; Risk 15 mnt, Energy 15 mnt; (4) last Q&A 15 mnt; (5) Wrap up dan closing 15 mnt. Di tiap MOREnya aku akan libatkan Abang untuk liase ke pengalaman Abang yang pastinya juga ada di buku Abang yah. Gimana Bang? Ok kah?”

Okey, persiapan acara dimulai. Sebanyak 50 orang mendaftar, 41 orang memberikan konfirmasi ulang, 3 orang pada menit akhir membatalkan kehadiran, akhirnya 34 orang (68%) hadir ditambah 5 peserta tambahan. Kehadiran 39 orang sangat bagus untuk membangun diskusi yang produktif. Di antara yang hadir ada 8 peserta yang sudah menulis buku, satu sampai berpuluh buku. Forum literasi yang membanggakan.

“Bagus lho Mas forum literasi ini kalau diadakan lebih sering, bahkan rutin.” Ide brilian! Itulah takdir buku Kai Food: Membangun Bisnis dari Nol. (*)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.