True Story American Dream Ulfa Inbody (1): Bahtera Rumah Tangga Porak Poranda

oleh
ulfa inbody
Ulfa Inbody bersama suami.

 

Namaku Ulfa Inbody. Mungkin kalian penasaran. Ya, Inbody itu adalah nama surname dari suamiku yang seorang bule Amerika. Sedangkan nama pemberian orang tuaku Ulfa Rinani. Ini adalah kisahku. Kisah American Dream seorang bocah arek Suroboyo yang besar dalam silang sengkarut kehidupan keras di Tanjung Pinang dan Batam.

 

Ditulis Oleh Ulfa Inbody

 

AKU dilahirkan di Kota Pahlawan, Surabaya, 56 tahun lalu. Umur 10 tahun aku ikut orangtua pindah tugas ke Tanjung Pinang. Jadi masa kecilku lebih banyak kuhabiskan di Tanjung Pinang, Riau,sampai tamat SMA.

Masa kecilku biasa saja. Dan kehidupan keluargaku juga sederhana. Orang tuaku terutama ibuku sangat ketat mendidik anak-anaknya, sehingga kehidupan masa remajaku tidaklah begitu bebas.

Setelah tamat SMA, aku tidak melanjutkan sekolah. Hal itu karena aku tidak mau membebani orangtuaku untuk biaya kuliah, sehingga aku hanya mengambil kursus Bahasa Inggris selama setahun.

Dan karena aku sangat ingin bisa berbahasa Inggris, maka kadang kalau ada turis di kotaku, aku beranikan diri untuk menyapa hanya sekadar “say hello”. Ya, yang penting ada keberanian. Yang penting PeDe.

Sampai sangking inginnya bisa menghafal vocabulary (kosa kata) Bahasa Inggris, sewaktu masih SD aku rajin menghafal kamus untuk mendapatkan perbendaharaan kata dan menghafalnya. Itu aku lakukan di mana saja, tidak peduli walaupun sedang dalam WC sekalipun.

Tadinya bapakku menganjurkan aku meneruskan kuliah apabila setelah orang tuaku pindah ke Jawa. Pindah ke kota Tegal. Tapi aku sudah telanjur pindah ke Batam mencari kerja.

Pada tahun 1987, Batam masih sepi, tidak seperti sekarang yang makin padat dan ramai. Di Batam aku bertemu kembali dengan kakaknya temanku sewaktu di SMA. Dan kami menjalin hubungan asmara.

Aku sempat kerja beberapa bulan pada waktu itu. Sebelum orang tuaku pindah ke Tegal, aku perkenalkan cowokku ini kepada Beliau. Namun, begitu tahu kami pacaran, orang tuaku ingin kami segera ke jenjang yang lebih serius lagi karena Beliau akan pindah ke Jawa.

Akhirnya kami bertunangan dahulu sebelum orang tuaku pindah. Lalu kami menikah pada usiaku yang terbilang masih muda sekitar dua puluh tahunan. Kami pun kemudian dikaruniai 3 anak, dua lelaki dan satu perempuan. Anak-anakku sangat rupawan.

Tetapi karena usia masih muda, dan banyaknya masalah serta tekanan dari mertua, dan juga suami, lalu ditambah masalah ekonomi, akhirnya pernikahan kami hanya bertahan lima tahun. Saat itu aku mangajukan gugatan cerai. Pada waktu itu aku sudah bekerja di PT. McDermott Indonesia di Batam.

Kalau dibilang kehidupanku, terutama bahtera rumah tanggaku, porak poranda, aku mengakuinya. Tapi aku lebih memilih bercerai agar bisa menata kembali hidupku.

Aku tidak mempunyai apa-apa, pun tidak dengan rumah karena kehidupan dengan suami juga sangat jauh dari kata layak, karena dia menganggur sudah cukup lama. Ditambah lagi dengan terjadinya KDRT, lengkaplah sudah untuk alasan menggugat cerai.

Dan aku pun memulai hidupku lagi dari nol.

Setelah bercerai, anak-anak yang pada waktu itu berumur 2 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun akhirnya aku boyong ke Jawa, ke tempat orang tuaku. Alasannya karena aku tidak punya rumah, lalu siapa yang akan menjaga anak-anak saat aku bekerja. Jadi aku titipkan pada kedua orang tuaku.

BACA JUGA:

Ketika Mimpi Amerika Bocah Surabaya Jadi Kenyataan: Kini Kangen Ngomong Jowo, Ajak WNI yang Kesulitan Mampir ke Rumahnya

Namun setelah setahun, mereka diambil oleh mantan suamiku, tetapi mereka dipisah-pisah. Ada yang dititipkan di adiknya dan ada pula yang di orang tuanya. Namun aku kurang setuju apabila anak-anak dipisah.
Hubunganku dengan mantan mertua tidak baik, semakin memburuk ketika kami bercerai (setelah aku menggugat cerai). Aku pikir hidup dengan mantanku tidak ada masa depan.

Setelah banyak melalui drama dan perjuangan yang panjang, anak-anakku kembali lagi padaku setelah dua tahun terpisah. Aku merasa bersalah meninggalkan anak-anak. Tapi apa daya. Keadaanku-lah yang tidak memungkinkan menjaga mereka.

Tapi sekarang aku harus mencari tempat tinggal yang bisa ditinggali bersama anak-anakku. Sebelumnya aku cuma ngekost sebab hanya untuk diriku sendiri. Kini cari rumah yang bisa dihuni dengan anak-anak.

Nah setelah bercerai aku sempat berpacaran dengan seseorang, tapi kupikir keluarganya mungkin kurang setuju karena aku janda dengan anak tiga. Tapi cowok ini begitu baik padaku dan anak-anak. Begitu mensupport moril.
Namun jodoh rezeki dan mati ada di tangan Tuhan. Biar takdir yang menentukan. Wahai Allah, bimbinglah aku, agar selalu di jalan-Mu.

Ikuti Kisahku Selanjutnya.

(Bersambung)

* Ulfah Inbody sekarang tinggal di Ironton, Ohio. USA, Oct. 27, 2023

No More Posts Available.

No more pages to load.