Empat Pilar

Seperti diketahui, program ISUTW melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah pusat serta daerah, pengusaha, akademisi, komunitas, dan media. Termasuk perwakilan RI dan diaspora di sejumlah negara. ISUTW juga menggandeng maskapai penerbangan Garuda Indonesia untuk segi logistik dan bank BNI untuk segi pembiayaan.
Selain mendorong hadirnya kuliner Indonesia di mancanegara, program ini juga menargetkan adanya 4.000 restaurant Indonesia di luar negeri dan meningkatkan nilai ekspor bumbu dan rempah-rempah menjadi 2 miliar Dolar Amerika Serikat (AS).
“Banyak yang menyampaikan, target-target (itu) mungkin boleh dikatakan sangat ambisius. Tapi kami yakin ini bisa karena kita akan berkolaborasi bukan hanya kementerian tapi dengan diaspora juga,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno saat Weekly Press Briefing, Senin (19/7/2021) lalu.
Bumbu yang dipromosikan adalah bumbu rendang, nasi goreng, sate, soto, gado-gado, serta bumbu pendukung lain seperti kecap manis dan kacang tanah. Sedangkan, rempah prioritas ekspor adalah lada, pala, cengkih, jahe, kayu manis, dan vanila.
Sandiaga menjelaskan bahwa program ISUTW dibagi menjadi empat pilar vertikal, yakni rempah, produk bumbu dan pangan olahan, restaurant Indonesia, promosi kuliner, dan Indonesia destinasi kuliner.
Pertama, yaitu produksi, produk bumbu, dan pangan olahan, terdiri dari produksi, expert, kemasan, pameran bumbu, dan pendampingan pembiayaan.
Kedua, restaurant Indonesia di luar negeri akan didesain ulang serta dibantu promosinya. Program ini juga akan mendatangkan chef dan memastikan adanya patokan bahan baku serta kolaborasi. Patokan diperlukan agar tercipta kesamaan rasa dan kualitas.
Ketiga, promosi kuliner. Mulai festival, konten digital, event kolaborasi media, pameran, dan konferensi forum.
Keempat, Indonesia destinasi kuliner. Pilar ini mendorong adanya pola perjalanan tematik, penyiapan destinasi gastronomi, perjalanan, dan konten destinasi kuliner.
Program ISUTW juga meliputi kunjungan kerja staf Kemenparekraf ke New York, AS 21-24 Juli 2021 tadi. Delegasi yang berangkat adalah dari Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf, Rizki Handayani Mustafa dan Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran, Masruroh.
Sandiaga mengatakan bahwa kunjungan kerja tersebut merupakan instruksi dari Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Pihaknya juga sudah mengantongi izin dari Presiden Joko Widodo dan Sekretariat Negara.
“Ini adalah kunjungan kerja pertama di mana kita akan menyiapkan beberapa langkah, seperti langkah-langkah awal persiapan dengan KBRI, KJRI di New York. Untuk program ISUTW, kita juga melakukan penguatan jejaring melalui pertemuan dengan para pegiat kuliner, importir bumbu, pengusaha restoran non-Indonesian yang juga ada di New York agar mereka berperan aktif dan bisa menyukseskan program ISUTW,” katanya.
Namun Sandiaga sendiri tidak berangkat ke Amerika dan hanya mengikuti kegiatan tersebut secara hybrid. Mengapa Amerika yang dipilih? Menurutnya, Amerika berpotensi sebagai tempat untuk mempromosikan bumbu dan rempah Indonesia. Negara ini dinilai sebagai salah satu negara yang perekonomiannya sudah kembali bergerak di tengah pandemi Covid-19.
Sementara itu, terkait New York, kota tersebut dikatakan memiliki peluang paling besar. Sebab, terdapat 100-150 restaurant Indonesia yang bisa berpartisipasi dalam program 4.000 restoran di ISUTW.
“Amerika potensinya besar karena populasinya besar dan daya belinya juga sudah kembali, jadi baik untuk ekspor rempah-rempah maupun untuk promosi karena kita akan gunakan restoran-restoran ini sebagai pengumpan dari potensi-potensi pariwisata dan produk ekonomi kreatif lain yang dimiliki bangsa ini,” kata Sandiaga. (gas/kcm)













