Terkait hal itu, saya ingat tragedi pelajar cilik Malala Yousafzai, yang ditembak pasukan Taliban pada Oktober 2012. Dia malah menjadi sangat terkenal gegara tragedi itu.
Betul, saat itu Taliban dianggap sebagai kelompok yang anti pada pendidikan perempuan di Afghanistan dengan beberapa justifikasinya hingga sampai pada penembakan pada pelajar cilik Malala Yousafzai.
Tentu itu menjadi catatan kelam bagi kelompok Taliban yang terus diingat masyarakat dunia. Adapun Malala saat ini mendapatkan suaka politiknya di Inggris. Isu terkait hak perempuan adalah PR besar bagi Taliban bagaimana mereka bisa melakukan kompromi agar bisa diterima rakyat Afghanistan serta dunia terlebih barat. Sanksi ekonomi dan politik menjadi tekanan dunia internasional terhadap Afghanistan jika perubahan positif tidak dilakukan.
Apa hubungannya Al Qaeda dan Taliban? Saat perang Afghanistan Osama lebih banyak diburu oleh AS?
Al-Qaeda adalah organisasi yang dianggap bertanggungjawab atas Tragedi Jatuhnya Gedung WTC di AS pada 11 September 2001 yang didalangi oleh Osama bin Laden. Osama bin Laden adalah pimpinan Al-Qaeda yang akhirnya mencari tempat perlindungan di Afghanistan dengan bantuan dari kelompok Taliban yang merupakan orang nomor satu yang dicari AS.
Sejak itulah AS memulai gerakan “War on Terror” terkhusus terhadap kelompok yang mereka labeli teroris yaitu Al-Qaeda dan Taliban itu sendiri. Hingga akhirnya perburuan militer AS terhadap Osama berakhir pada 2 May 2011 di mana serangannya berhasil membunuh Osama di Pakistan. Namun di satu sisi, perang dengan Taliban belum berakhir sejak 2001 untuk menjadikan Afghanistan sebagai negara demokratis termasuk membersihkannya sebagai sarang teroris, hingga dinamika itu berakhir saat ini di mana Taliban berkuasa di Afghanistan.
Indonesia juga banyak berperan dalam perundingan damai di Afghanistan, khususnya di era Wapres JK, komentar Anda seperti apa?
Ini tentu modal bagus Indonesia sebagai mediator perdamaian konflik di Afghanistan yang sebiknya terus dilanjutkan, sebab beliau dipercaya oleh kedua belah pihak. Indonesia memiliki potensi besar dengan “soft power” kepercayaan yang dimilikinya serta status Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar dunia yang demokratis dapat menjadi contoh nyata bagi Afghanistan untuk bersatu di tengah keberagaman.
Peran Indonesia ini tidak hanya berarti bagi rakyat dan masa depan Afghanistan tapi juga bagi perdamaian dunia dari kekhawatiran tindakan terorisme yang dapat terus berkembang di Afghanistan di bawah Taliban. Langkah persuasif Indonesia bisa jadi lebih efektif daripada tindakan militer sebelumnya. Pemerintah kita perlu menawarkan peranan ini jika kelak diperlukan tentu dengan strategi yang matang. Wallahu a’lam. (*)













