Desainer Indonesia Entin Gartini memelopori bisnis start up di Kanada. Diaspora asal Semarang Jawa Tengah ini meluncurkan start up pendidikan desain di Kanada yang disambut antusias, bukan hanya orang Indonesia, tapi juga warga Kanada. Entin Gartini dikenal setelah mendapatkan anugerah ‘The Best Designer’ pada ‘Ottawa Award 2021’. Berikut wawancara DutaIndonesia.com dan Global News dengan Entin Gartini terkait Fashion & Business Start Up yang dibangunnya di Kanada.
Oleh Gatot Susanto
Apa yang melatarbelakangi Mbak Entin membuka start up pendidikan bagi desainer pemula ini? Pesertanya WNI atau apa ada dari warga dari negara lain?
Berdasarkan pengalaman saya sendiri. Karena saya mulai menjadi desainer benar-benar dari nol, learning by doing, tidak ada background bersekolah di sekolah mode. Namun saya bisa mewujudkan keinginan untuk menjadi fashion desainer.
Lalu saya membuat online fashion course untuk menjadi solusi dan memudahkan mereka yang juga ingin belajar fashion — menjadi fashion desainer– namun memiliki kendala. Mereka tidak bisa masuk sekolah mode baik karena biaya atau tidak punya waktu.
Terutama para ibu-ibu yang sudah berkeluarga, tidak bisa setiap saat meninggalkan anaknya di rumah, sehingga adanya online course saya ini sangat membantu mereka. Pesertanya, ada dari Indonesia, Kanada, dan Amerika Serikat.
Bagaimana respon mereka?
Mereka senang dan merasa sangat terbantu. sebagian besar dari mereka mengaku kalau sebenarnya sudah lama mencari online course fashion. Kalau di Indonesia, institut mode rata-rata biayanya mahal. Akhirnya jadi kendala bagi yang benar-benar ingin belajar dan memiliki talent namun terbentur biaya. Nah, adanya online course saya ini sangat membantu mereka, karena biayanya jauh di bawah rata-rata sekolah mode.
Untuk biayanya sendiri mulai Rp 1,5 juta (paket yang basic, 2 bulan pelatihan). Untuk yang level advance antara Rp 10 – 20 juta (6-8 bulan pelatihan). Itu pun terkadang bulan-bulan tertentu saya memberi diskon, jadi jatuhnya bisa lebih murah lagi.
Peserta ini pemula atau sama sekali tidak kenal desain?
Sebanyak 90% pemula yang mulai dari nol. Lalu 10% lulusan sekolah mode, seperti La Salle College, Arva School of Fashion, hingga IFI (Islamic Fashion Institute) dan lain-lain.
Kenapa ada murid lulusan sekolah mode besar yang ikut course saya? Salah satu alasannya mereka karena mau belajar gambar (sketsa) karena sebelumnya belum diajarkan di sekolahnya.
Materi apa saja yang disampaikan?
Di antaranya Fashion Drawing Advance; How To Draw Women’s Apparel, Drawing Pattern, Body Type, Drawing Fabric, dan lainnya. Selanjutnya Textile Development, Design Development, Basic Sewing, Product Development, Brand Consumer and Trend, Branding, The History and Business of Fashion dan lain-lain.
Jadi, saya tidak cuma mengajarkan seluk-beluk bagaimana membuat busana, tapi segala aspek yang berhubungan dengan fashion dan branding. Supaya murid-murid mengerti sejarahnya (ilmunya). Lalu setelah lulus, mereka paham marketnya, dan lain sebagainya.
Sepengetahuan Mbak Entin, apa yang perlu ditekankan soal ilmu desain khas Indonesia?
Di kelas master (fashion design) saya banyak mengulas kain-kain wastra nusantara, karena masih banyak yang belum ter-ekspose. Hal ini juga jadi kesempatan saya untuk memperkenalkan wastra kepada murid-murid dari luar Indonesia.
Apa ini bekerja sama dengan KJRI?
Tidak.
Selain Mbak Entin, apa ada diaspora lain yang menggeluti fashion desainer di Kanada? Apa mereka juga membuka pelatihan seperti Mbak Entin?
Belum ada. Hingga sekarang, saya masih menjadi pelopor dan satu-satunya di Kanada. Saya senang dan bangga karena ini juga bisa menjadi tempat untuk mempromosikan wastra nusantara melalui murid-murid saya.
Maksudnya, selama ini kalau saya mendapat undangan (fashion show) dari beberapa negara (Jerman, Amerika Serikat; New York, Miami) saya sering kewalahan karena hanya saya sendiri. Nah, harapannya kalau murid saya ada yang mau dan bisa berangkat, mereka yang datang memenuhi undangan dan memperkenalkan wastra Indonesia.
Seingat saya, Mbak Entin meng-explore laut Indonesia? Apa alasannya serta bagaimana respon pasar fashion di Kanada? Lalu apa ciri khas ini juga diajarkan di pelatihan?
Tidak. Saya sifatnya hanya memberi ide-ide supaya mereka kelak akan menemukan dan memiliki ciri khasnya sendiri pada karya-karyanya.
Apa Mbak Entin juga mempromosikan produk UMKM Indonesia di Kanada?
Ya. Salah satunya fashion show Eco Print UMKM dari salah satu murid saya. Banyak juga yang mengajak kerjasama. Misalnya ada produsen UMKM, mereka kirim produknya ke sini, lalu saya ikut bantu branding produknya. Ini produknya tas anyaman.
Intinya, saya bikin online course fashion ini untuk mencetak talenta-talenta baru, sekaligus menjadi media mempromosikan wastra nusantara. Kalau murid-murid lulusan kursus saya juga ikut mempromosikan wastra, tentu alangkah baiknya karena semakin dikenal luas, tidak hanya di Indonesia saja, tapi mancanegara.
Apa ada latar belakang lain?
Fashion & Business Start Up yang saya bangun ini merupakan ‘pintu’ bagi siapa saja yang ingin menjadi desainer fashion atau berkarya apapun dalam dunia fashion. Salah satu fakta yang juga melatarbelakangi didirikannya Fashion & Business Start Up adalah banyak anak kuliah tapi jurusannya harus sesuai yang diinginkan orangtuanya, sehingga setelah lulus dan memasuki usia yang tak lagi muda, ingin kuliah di jurusan yang sesuai dengan passion rasanya sudah terlambat. Dengan segala tanggungjawab yang dimiliki (berkeluarga, bekerja, dan lainnya) mungkinkah tetap mengejar impian sebagai desainer fesyen?
Saya percaya bahwa umur, gender, latar belakang sosial, atau banyak hal lainnya bukanlah halangan bagi seseorang jika ingin mengejar mimpinya. Fashion & Business Start Up ini menjadi pelopor dan satu-satunya online fashion course di Kanada. Dan siapa sangka kalau pendirinya bukan orang asli Kanada, melainkan orang Indonesia yang bertempat tinggal di sana. (*)














