
Pesan apa yang ingin disampaikan kepada dunia dari ritual ini?
Pesan yang akan disampaikan adalah bagaimana leluhur kita mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta dari hasil panen sehingga kita sadar bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhannya, berhubungan dengan sesama manusia, dan alam. Karena itu di acara ritual tersebut biasanya dilakukan semacam upacara untuk menyambut kedatangan Dewi Sri (Sri Pohaci) yang dikenal sebagai dewi pertanian.
Bagaimana visualisasi ritual ini di NYIFW?
Di acara NYIFW nanti kedatangan Sri Pohaci dilambangkan secara profesional dengan hasil rancangan designer Joni Permana. Design yang ditampilkan mendukung sosok Sri Pohaci tersebut.
Begitu pula iringan musiknya. Musik Tarawangsa dibuat mulai ada gradasi, dipadukan dengan musik modular modern. Dua personel Tarawangsa, R. Ian Suherman, merupakan salah satu murid Pak Abun dari Ranca kalong. Sedang OKi berkolaborasi dengan Arranger Eri RM dari Parakuat.
Musik Tarawangsa ini nanti juga untuk mengiringi model- model yang berjalan di run way NYIFW.
Apa misi penampilan Kampoeng Tjibarani dengan tradisi Tarawangsa di New York ini?
Untuk membuktikan bahwa seni budaya kita masih bisa eksis (exist) dengan zaman saat ini serta bisa mendunia. Tradisi Tarawangsa dikemas dengan konsep HISTORICAL , PROFESIONAL, DAN FUTURISTIK.
Saya sebagai rakyat biasa, yang mempunyai harapan ke depannya untuk bisa membawa para pelaku seni, budaya yang ada di Indonesia bisa memperkenalkannya di dunia internasional dengan segala kearifan lokalnya. Termasuk pula pesan-pesan dari apa yang leluhur kita lakukan di masa lampau.
Pesan saat ini adalah ALUNAN TARAWANGSA YANG UNIVERSAL DIHADIRKAN DI KAWASAN CITIZEN UNIVERSAL.
Supaya kita tersadar bahwa kita negara agraris jangan sampai lahan sawah habis sehingga seni budayanya pun mulai terkikis.
Betul, saat ini generasi muda sudah kehilangan akar budaya yang ditanam oleh leluhurnya.
Saat ini seni budaya kita semakin terkikis. Seni dan budaya di Indonesia digusur budaya Barat. Itu karena generasi saat ini kurang peka, salah satunya karena dampak globalisasi media yang berdampak pula terhadap seni dan budaya Indonesia. Kita tidak anti budaya asing atau Barat, tapi jangan sampai budaya asing termasuk media mengikis budaya kita. (Bersambung)














