Jatim Surplus
“Potensi ekspor manufaktur Jatim sangat besar, meskipun di masa pandemi ekspor luar negeri jadi terbatas akibat kelangkaan dan tarif kontainer. Namun ekspor/perdagangan antar daerah tahun ini telah menopang kinerja ekonomi kita, bahkan Jatim surplus perdagangan antar daerah melalui 26 kantor Perwakilan Dagang (KPD),” jelasnya.
Sedangkan dari sisi pariwisata, BI mendorong agar Jatim memperbanyak destinasi wisata atraksi, memperkuat aksesbilitas wisata hingga menambah amenitas atau fasilitas di luar akomodasi seperti rumah makan, restoran, toko cenderamata dan fasilitas umum lainnya.
“Pariwisata ini penting karena memiliki multi player effect yang luar biasa. Apalagi di Jatim punya banyak potensi unggulan seperti wisata heritage, ecotourism seperti Bromo Tengger Semeru, Mojopahit, Tunjungan maupun kawasan mangrove yang perlu dikembangkan dan lebih terstruktur,” imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga menyatakan kunci sukses akselerasi ekonomi Jatim tidak lepas dari berbagai inisiatif yang dilakukan Pemerintah Daerah, seperti penguatan kerjasama antar daerah dan optimalisasi Lumbung Pangan Nusantara, didukung suksesnya program vaksinasi yang menjadi game changer bagi pemulihan ekonomi.
Ke depan, terdapat beberapa tantangan bagi perekonomian Jatim yang perlu diantisipasi, antara lain tidak meratanya pemulihan ekonomi global, disparitas laju inflasi antar kabupaten/kota di Jatim, pembangunan SDM dan ketersediaan akses internet yang belum merata antara Jawa Timur bagian Utara dan bagian Selatan serta lemahnya standardisasi produk serta masih terbatasnya pembiayaan UMKM.
Berdasarkan tantangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan Ekonomi Jatim pada tahun 2022 tumbuh lebih tinggi dari tahun sebelumnya, pada kisaran 5,0% sampai dengan 5,8% (yoy) atau kembali ke pola normal pertumbuhan sebelum pandemi Covid-19.
Sementara inflasi diperkirakan masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional 3 + 1%, sejalan dengan peran aktif TPID terutama melalui optimalisasi LPN.
Pertemuan Tahunan Pemprov Jatim dan Bank Indonesia Jatim ini juga menggelar komitmen program bersama, seperti perluasan Rumah Kurasi dan Pondok Kurasi untuk mendukung 1.000 produk UMKM, program perluasan Pasar Rakyat Siap Digital, kick off ikrar halal produk UMKM, kick off perluasan program desa wisata halal dan program kandang komunal untuk peningkatan produksi sapi potong.
Kerjasama ini diwujudkan dalam rangka penguatan ekosistem UMKM untuk ekonomi Jatim yang inklusif, membangun Jatim sebagai Pusat Industri Halal terdepan serta mewujudkan Jatim sebagai Lumbung Pangan Nusantara.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Adik Dwi Putranto menambahkan dalam program Rumah Kurasi dan Pondok Kurasi yang telah berjalan sejauh ini, sudah terdapat sekitar 600 UMKM yang melewati proses kurasi menuju pasar ekspor.
“Sampai saat ini sudah ada 600 UMKM, tahun depan akan dikejar menjadi sampai 1.000 UMKM. Harapannya di awal tahun sudah bisa terealisasi sehingga target berikutnya terus ditambah,” imbuhnya. (nas)













