Bukan Belajar, PTM Malah Jadi Ajang Reuni

oleh

Kurang Greget

Selain menjadi ajang reuni, greget mereka untuk menerima pelajaran sangatlah kurang. Hal ini menjadi tantangan dan PR bagi saya untuk mengembalikan mood peserta didik. “Pusing pala Berbie,“ itulah gambaran yang tepat keadaan saya saat itu.

Menyikapi hal seperti ini, saya mencoba untuk mundur ke belakang dan memahami kenapa mereka bisa seperti itu. Pembelajaran jarak jauh sudah memasuki bulan ke-19, artinya dengan kurun waktu hampir 2 tahun siswa sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan baru mereka, yaitu belajar secara daring. Mereka tidak lagi harus bangun pagi dan berebut angkot untuk berangkat ke sekolah, atau harus berjuang dengan kemacetan di jalan bagi mereka yang naik motor. Sekolah bisa dilakukan di mana saja, asal membawa Ponsel mereka bisa bersekolah. Apalagi bagi mereka yang kurang pengawasan dari orang tua. Mereka hanya sekedar copy paste pekerjaan temannya.

Sebagian besar dari mereka tidak memikirkan tentang ilmu yang dipelajari, paham tentang ilmu yang dipelajari ada di urutan ke dua puluh, yang penting tugas dikumpulkan dan dapat nilai baik. Kenyataan memang seperti itu, hampir semua siswa mengumpulkan tugas dengan sempurna, tidak ada soal yang tidak bisa dijawab, semua bisa dijawab dan benar. Perbedaan hanya terletak pada jam mengumpulkan, ada yang tepat waktu dan sebagian lagi terlambat mengumpulkan, sepertinya mereka sudah berada pada zona nyaman dengan pembelajaran daring.

Ketika tiba saatnya mereka kembali belajar di sekolah, ibarat pisau bermata dua. Satu sisi mereka senang bisa bertemu teman dan guru, di sisi lain mereka belum siap untuk belajar secara mandiri terutama bagi mereka yang terbiasa menyelesaikan tugas dengan bantuan orang lain. Butuh waktu untuk mengembalikan mental siswa agar siap belajar secara tatap muka.

No More Posts Available.

No more pages to load.