Salah satu keunggulan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) adalah reputasi internasionalnya. Gus Yahya mampu melakukan diplomasi internasional sekaligus untuk menunjukkan peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam merajut perdamaian dunia. Terkini diplomasi global itu ditunjukkan dengan melakukan dialog dengan duta besar negara yang terlibat konflik di Timur Tengah: Iran, Amerika Serikat, Saudi Arabia, dan Turki.
Benny Benke, Kepala Biro Jakarta Suara Merdeka, menulis dengan apik terkait kiprah global Gus Yahya, khususnya terkait Palestina, di medianya. Benny menggambarkan bagaimana kader NU di bawah menyanjung Gus Yahya yang berjuang dalam diplomasi internasional untuk kemerdekaan Palestina.
Pujian itu antara lain disampaikan di ruang pertemuan yang sahaja di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Kroya. Saat itu seorang ketua PCNU dari Kebumen, Jawa Tengah, bernama Dr. H. Imam Satibi, M.Pd.I. melontarkan sebuah pengakuan yang jarang terdengar dalam politik internal Nahdlatul Ulama (NU). Kapasitas internasional, katanya, adalah pembeda. Maksudnya, pembeda antara Gus Yahya dengan penantangnya. Sebuah pernyataan yang singkat namun menyimpan implikasi besar bagi organisasi massa Islam terbesar di dunia ini.
“Dalam hitungan bulan, NU akan menggelar Muktamar ke-35, sebuah hajatan besar yang tidak hanya menentukan kepemimpinan 2026-2031 tetapi juga arah peradaban organisasi yang berusia satu abad lebih ini. Di tengah panggung, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) tengah memainkan permainan yang tidak dipahami oleh sebagian besar penantangnya. Yaitu catur geopolitik level tertinggi. Sementara para kandidat lain seperti Kiai Imam Jazuli (26,1% dalam survei Insantara) dan KH Marzuqi Mustamar (22,6%), yang baru-baru ini melesat mengungguli petahana dalam jajak pendapat, sibuk mengkritik kebijakan domestik dan merangkul basis tradisional, Gus Yahya berada di ruang-ruang rahasia Washington DC, London, dan Ankara,” tulis Benny.
Pertanyaannya, kata dia, bukan lagi apakah Gus Yahya aman secara elektoral. Pertanyaannya adalah siapa di antara para penantangnya yang benar-benar siap menggantikan posisinya di panggung global jika ia lengser?
Kelas Diplomasi yang Berbeda
Benny kemudian memberi gambaran, pada September 2024, ketika sebagian besar elite NU sibuk dengan manuver jelang muktamar, Gus Yahya terbang ke Amerika Serikat. Ia tidak sekadar bertemu dengan duta besar atau pejabat rendahan. Ia duduk di meja diskusi The Heritage Foundation, salah satu aktor paling berpengaruh dalam formulasi kebijakan Partai Republik. Ia kemudian meluncur ke The Atlantic Council, pusat gravitasi kebijakan luar negeri AS dari spektrum berbeda.
Gus Yahya mengunjungi kedua lembaga think tank berpengaruh di Amerika Serikat tersebut dalam rangkaian lawatan “Roadshow Peradaban” pada September 2024.
“Today, few in America understand the importance of NU’s role in global dynamics,” kata Fred Kempe, Presiden dan CEO Atlantic Council, kepada Gus Yahya dalam pertemuan itu. “But I understand very much, fully understand” .
Pengakuan ini bukan basa-basi diplomatik. Kempe adalah figur yang serius. Dan pernyataannya mencerminkan realitas yang tak terbantahkan. Gus Yahya telah membangun jembatan yang tidak dimiliki siapa pun di NU, dan dengan segala hormat, mungkin di Indonesia, sampai saat ini.
Di The Heritage Foundation, Gus Yahya mempresentasikan wacana peradaban yang dibawa NU. Ia menjelaskan pentingnya mengintegrasikan dunia Islam ke dalam sistem global, sekaligus mendorong tatanan internasional yang adil dan harmonis yang didasarkan pada prinsip penghormatan terhadap kesetaraan hak dan martabat setiap manusia .
Jeff Smith, Direktur Center for Asian Studies di The Heritage Foundation, merespons dengan komitmen konkret, mendukung pengembangan kerja sama dengan Indonesia ke depan. Ini bukan sekadar foto bersama. Ini adalah pembangunan pengaruh jangka panjang .
Bergaul Sembarangan
Pada pertemuan tertutup dengan para alumni Ma’had Aly Situbondo, September 2025, Gus Yahya membuat pengakuan yang jujur sekaligus provokatif. Di hadapan Wakil Rais ‘Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir, ia mengakui satu hal. “Saya memang bergaul sembarangan”.
Ungkapan itu merujuk pada fakta bahwa sejak 2011, Gus Yahya telah bertemu dengan para aktor global dari berbagai spektrum. Dari Rusia, China, Amerika, bahkan Israel. Pada 2018, ia berada di Yerusalem dan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Bukan karena simpati, tegasnya, tetapi karena isu Palestina tidak akan selesai jika ia hanya berbicara dengan mereka yang sudah sepakat dengannya.
Foto inilah yang paling banyak dibelokkan oleh lawan politiknya untuk memojokkan posisinya.Tapi Gus Yahya tenang saja.
Di situlah letak perbedaan fundamental antara Gus Yahya dan para pesaingnya. Sementara kandidat lain masih terjebak dalam narasi konfrontatif yang populis namun steril secara strategis, Gus Yahya bermain di level di mana keputusan global benar-benar dibuat.
Ia tidak datang ke Washington untuk berorasi. Ia datang untuk mengubah persepsi. Dan hasilnya mulai terlihat.
The Atlantic Council berkomitmen mendukung inisiatif NU di kancah internasional. Peter Berkowitz, mantan Kepala Divisi Perencanaan Kebijakan Departemen Luar Negeri AS, terkesan dengan forum R20 yang digelar NU di Bali, November 2022, dan kemudian menghubungkan Gus Yahya dengan simpul-simpul strategis di AS .
“Saya tidak mau nanti dihisab karena tidak berbuat apa-apa untuk Palestina,” kata Gus Yahya di Cilacap, mengutip alasan personal di balik kegelisahannya selama ini.
Kesalahan Diakui Terbuka
Tidak semua berjalan mulus. Pada September 2025, Gus Yahya diterpa badai kritik karena mengundang Peter Berkowitz, yang kemudian diketahui memiliki pandangan pro-Zionis, untuk berbicara di Jakarta. Tuduhan miring langsung mengalir. Dari agen Zionis, pengkhianat Palestina, dan seterusnya.
Yang menarik bukanlah kontroversinya, tetapi cara Gus Yahya merespons. Di depan para kiai, nyai, dan santri Situbondo, ia secara terbuka mengakui kesalahannya.
“Kontroversi mengundang zionis itu memang sepenuhnya salah saya karena tidak peka terhadap latar belakang orang terkait dengan Israel dan zionis ini. Saya sendiri tidak meneliti sebelumnya”.
Ini adalah sikap yang jarang dilakukan oleh pemimpin Indonesia: mengakui kesalahan secara terbuka, tanpa pembelaan berbelit, namun tetap pada posisi prinsip. Gus Yahya tidak mencabut komitmennya pada Palestina. Ia hanya mengakui bahwa ia gagal dalam due diligence. “Bandingkan dengan para penantangnya,” kata Benny.
R20 Warisan Peradaban Global
Salah satu pencapaian Gus Yahya yang paling tidak terbantahkan adalah peluncuran Religion of Twenty (R20) di Bali, November 2022. Forum ini adalah kelompok afiliasi G20 yang secara khusus membahas peran agama dalam perdamaian global, sebuah terobosan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.
IRCICA (Research Centre For Islamic History, Art and Culture), pusat penelitian sejarah dan budaya Islam yang berbasis di Turki, menempatkan Direktur Jenderalnya Prof. Dr. Mahmud Erol Kılıç di jajaran Dewan R20 atas nominasi Gus Yahya. Tujuh area prioritas diidentifikasi, dari etika teknologi dan AI, hingga rekonsiliasi sejarah, hingga spiritual ecology. Ini adalah level ambisi yang sama sekali berbeda dengan omelan-omelan politis di tingkat nasional .
Forum ini membuka jalur komunikasi langsung antara para pemimpin agama dunia dengan para pembuat kebijakan global. “Dan dengan segala hormat dan maaf, tidak ada satu pun kandidat Ketua Umum NU yang saat ini memiliki akses dan pengalaman setara di level ini,” ujarnya.
Sebuah penelitian mendalam dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang diselesaikan pada Agustus 2025, kata Benny, memberikan perspektif yang mencemaskan. Penelitian yang dilakukan oleh Wildan Rahmat Hidayat dengan judul “Globalizing Nahdlatul Ulama: Religion, Diplomacy, and the Politics of Representation” itu menemukan bahwa upaya globalisasi NU sangat bergantung pada inisiatif elite yang dipersonifikasikan pada figur-figur tertentu.
Temuan kritisnya globalisasi NU belum menjadi ekspansi horizontal yang berbasis akar rumput, melainkan proyek yang dibentuk oleh kepentingan nasional, inisiatif elite, dan logika representasi yang dimediasi negara. Ada risiko bahwa proyek ini bisa menjadi bentuk yang secara global “terbaca” namun secara epistemik “hampa” .
“Artinya, tanpa keberlanjutan kepemimpinan yang memiliki komitmen dan kapasitas internasional, seluruh infrastruktur diplomasi global NU bisa runtuh. Jaringan dengan The Heritage Foundation, Atlantic Council, IRCICA, dan para pembuat kebijakan AS tidak akan bertahan jika digantikan oleh figur yang tidak memiliki akses atau pemahaman yang sama. Ini bukan sekadar masalah prestise. Ini adalah masalah keberlanjutan perjuangan NU untuk Palestina di panggung global,” katanya.
Dari sini terlihat, Benny melanjurkan, bahwa Gus Yahya memiliki satu keunggulan yang tidak akan mudah ditiru. Yaitu pengalaman langsung sebagai juru bicara Gus Dur. Selama masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid, ia berada di pusaran diplomasi tingkat tertinggi. Ia melihat langsung bagaimana Gus Dur berkomunikasi dengan Shimon Peres, bagaimana negosiasi damai dilakukan, bagaimana tekanan internasional dimainkan.
“Memang sudah nasib NU ini dikenal dunia. Apa yang saya lakukan sekarang pun belum sebanding dengan yang dilakukan Abdurrahman Wahid dulu,” ujarnya merendah di Cilacap seperti dikutip dalam artikel Benny.
Tapi pernyataan itu sebenarnya menegaskan sesuatu yang lain. Bahwa tidak semua orang bisa menjadi Gus Dur, dan tidak semua orang bisa menjadi Gus Yahya. Diplomasi level ini membutuhkan kombinasi antara ketajaman analisis geopolitik, jejaring yang dibangun selama puluhan tahun, dan keberanian untuk mengambil risiko reputasi.
Para kandidat lain mungkin lebih unggul dalam politik domestik, kata dia, lebih dekat dengan akar rumput, atau lebih vokal dalam retorika konfrontatif. Tapi di meja perundingan dengan anggota Senat AS, di ruang rapat Atlantic Council, di tengah intrik diplomasi Timur Tengah, mereka akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sekadar mengejar posisi awal yang sudah dicapai Gus Yahya saat ini.
Persimpangan Sejarah
Muktamar ke-35 NU bukan sekadar pemilihan ketua. Ini adalah persimpangan antara tradisi dan modernitas, antara retorika domestik dan diplomasi global, antara kepuasan jangka pendek dan investasi strategis jangka panjang.
Survei Insantara menunjukkan bahwa 80 persen warga NU tidak puas dengan kinerja PBNU saat ini. Angka itu tidak bisa diabaikan. Ada kekecewaan yang nyata di akar rumput, yang dieksploitasi secara efektif oleh para penantangnya.
Namun pertanyaan yang harus diajukan oleh setiap peserta muktamar bukanlah “apakah kita puas dengan Gus Yahya?” tetapi “apakah kita siap kehilangan posisi global NU yang telah dibangun selama lima tahun terakhir?”
Karena seperti yang ditunjukkan oleh data dan fakta, tidak ada satu pun kandidat yang saat ini memiliki kapasitas diplomasi internasional yang setara. Tidak ada satu pun yang pernah duduk di meja The Heritage Foundation, dipercaya oleh Atlantic Council, atau diundang oleh para pembuat kebijakan AS untuk menjelaskan visi peradaban Islam Nusantara.
Gus Yahya sendiri mungkin tidak sempurna. Ia mengakui kesalahannya sendiri. Ia juga sadar bahwa pertarungan elektoralnya sedang sulit. Namun di tengah gelombang kritik dan tekanan politik, ia tetap pada posisinya. Yaitu membawa NU ke panggung dunia, bukan untuk popularitas, tetapi karena ia tidak ingin “dihisab karena tidak berbuat apa-apa untuk Palestina”.
Di persimpangan sejarah ini, NU harus memilih bersembunyi di balik kenyamanan kritik domestik, atau melangkah ke panggung global yang penuh risiko namun sarat pengaruh.
Pilihan itu, pada akhirnya, akan menentukan nasib Palestina, nasib Islam moderat di kancah global, dan nasib peradaban yang ingin diperjuangkan oleh para pendiri NU. (bb/SM)














