Demo Pembuatan Vaksin Nusantara di Depan DPR, Terawan Kini Merasa Tak Sendirian

oleh

“Kejadian yang tidak diinginkan derajat ringan, didapatkan 21 atau 15,44% mengeluhkan 24 reaksi lokal pegal, memar, kemerahan dan gatal. Paling banyak adalah pegal di titik penyuntikan,” jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR tersebut.

Untuk follow-up minggu pertama sampai keempat tidak ada reaksi sistemik. Termasuk juga tidak didapatkan kejadian serous adverse event. Selain itu juga tidak ada kelainan dari hasil pemeriksaan laboratorium.

“Sebagai kesimpulan follow up selama penelitian, sampai saat ini keamanannya baik, belum ada kejadian tidak diinginkan baik, belum ada Kejadian Tidak Diinginkan Berat/Serius. Dari ketiga dosis Antigen Protein S yang digunakan meningkatkan imununogenitas seluler. Dosis antigen Protein S minimal yang bisa memberikan imunogenitas seluler optimal adalah 0,1 mikrogram,” kata dr. Jonny.

Sementara itu, dr. Yetty yang termasuk dalam penelitian ini, menjelaskan soal uji klinis fase I masih melakukan evaluasi hingga satu tahun. Tujuan evaluasinya adalah follow-up efek samping dan memiliki data kekebalan jangka panjang.

Dia mengatakan dari efek samping fase I Kejadian Tidak Diinginkan 70%. Namun, dr. Jonny mengatakan itu bukan angka yang tinggi. “Pada evaluasi fase I kejadian tidak diinginkan derajat ringan, tidak ada satupun tidak memerlukan perawatan. Juga ditanyakan pada subyek keluhan rata-rata reaksi lokal derajat I atau II,” kata Yetty.

Yetty juga menjelaskan soal efek samping grade III adalah pasien yang mengalami kenaikan kolesterol. Setelah dilaporkan dan ditelaah, dianggap tidak berbahaya. “Kondisi tidak dalam keadaan puasa sehingga kolesterol fluktuatif. Sangat ringan sehingga oleh DSMP kemungkinan besar tidak ada hubungannya dengan vaksin,” ungkapnya. (det/cnbci)