Dr Gatot Ingatkan Tetap Waspada, Masih Ada Ancaman Covid-19 dari Negara Lain

oleh
Dr dr Gatot Soegiarto

SURABAYA|DutaIndonesia.com – Presiden Jokowi akan menghentikan PPKM di akhir tahun 2022. Ini artinya pandemi Covid-19 sudah dianggap menjadi endemi. Masyarakat sendiri secara tidak “resmi” sebenarnya sudah menganggap pandemi Covid-19 sudah sirna dari bumi pertiwi. Hal itu terlihat dari aktivitas masyarakat sudah normal seperti sebelum terjadi pandemi Covid-19. Pesta pernikahan, nobar Piala Dunia, seminar, wisata sudah diserbu masyarakat.

Namun masalahnya, tidak semua negara seperti Indonesia. China dan Hongkong misalnya belum sepenuhnya pulih dari Covid-19. Karena itu pakar imunologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Gatot Soegiarto SpPD, K-AI, FINASM, tetap menghimbau agar masyarakat waspada. Berhati-hati saat berada di dalam kerumunan, seperti ketika merayakan Tahun Baru 2023, tetap harus bermasker.

“Sebenarnya, selama ada negara lain di dunia ini yang masih dilanda COVID-19, maka kita belum bisa mengatakan bahwa ancaman virus SARS-CoV-2 ini selesai. Mengapa? Karena selama virus masih bisa menginfeksi seseorang, virus bereplikasi dalam tubuh orang tersebut dan berpotensi menghasilkan varian baru yang mungkin lebih mampu menginfeksi, lebih lihai menghindari respons imun, lebih menimbulkan gejala klinis yang berat dan fatal,” kata Dr Gatot kepada DutaIndonesia.com, Kamis (22/12/2022).

Baca Berita Terkait:

Presiden Jokowi Hentikan PPKM di Akhir Tahun, Pakar Imunologi Unair: Tetap
Bermasker Saat Berkerumun

Namun, Dr Gatot berharap semoga saja itu tidak terjadi. Negara-negara atau wilayah yang sudah menjalankan vaksinasi (berulang) dan memiliki tingkat perlindungan antibodi yang memadai, atau boleh dikatakan sudah mencapai herd immunity, akan memiliki ketangguhan menghadapi ancaman infeksi tersebut, sehingga andaikan ada yang terinfeksi, infeksinya hanya sporadis, tidak menyebar ke seluruh wilayah. “Syukur kalau infeksinya juga hanya menimbulkan gejala sakit yang ringan. Pada saat itulah pandemi sudah bergeser menjadi endemi,” katanya sambil mengirim artikel oleh American Lung Association. Baca selengkapnya dengan klik Link Ini.

“Hingga saat itu tercapai, rasanya memakai masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan sebisa mungkin adalah cara yang bisa kita tempuh bersama untuk menuju situasi endemik,” katanya lagi.

Kondisi di China

Seperti diberitakan VOA, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) prihatin dengan lonjakan infeksi COVID-19 di China dan mendukung pemerintah agar memfokuskan upayanya memvaksinasi warga yang paling berisiko di seluruh negeri, kata Dirjen WHO, Rabu (21/12/2022).

Infeksi baru-baru ini melonjak di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini, dan proyeksi menunjukkan China bisa menghadapi ledakan kasus dan lebih dari satu juta kematian tahun depan.

“WHO sangat prihatin atas perkembangan situasi di China, dengan meningkatnya laporan penyakit parah,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan.

Tedros mengatakan badan tersebut membutuhkan informasi yang lebih rinci tentang tingkat keparahan penyakit, rawat inap di rumah sakit, penerimaan dan persyaratan pada unit perawatan intensif, untuk melakukan penilaian situasi secara menyeluruh.

Komentar itu disampaikan ketika pemerintah Jerman mengonfirmasi telah mengirimkan gelombang pertama vaksin COVID-19 BioNTech ke China untuk diberikan terutama kepada ekspatriat Jerman di negara itu. Ini disampaikan juru bicara pemerintah Jerman pada Rabu (21/12/2022).

Dilansir dari Reuters, pengiriman itu jadi vaksin virus corona asing pertama yang akan dikirim ke negara itu. Tidak ada detail lain yang tersedia tentang waktu dan ukuran pengiriman. Pengiriman dilakukan setelah China setuju untuk mengizinkan warga negara Jerman di China untuk mendapatkan suntikan setelah kesepakatan selama kunjungan Kanselir Olaf Scholz di Beijing bulan lalu.

Pemimpin Jerman mendesak Beijing untuk mengizinkan suntikan tersebut tersedia secara bebas untuk warga negara China juga. “Saya dapat memastikan pengiriman vaksin BioNTech sedang dalam perjalanan ke China,” kata orang tersebut kepada wartawan di Berlin.

Beijing sejauh ini bersikeras hanya menggunakan vaksin yang diproduksi di dalam negeri, yang tidak didasarkan pada teknologi mRNA Barat tetapi pada teknologi yang lebih tradisional. Pengiriman itu dilakukan di tengah pembongkaran rezim penguncian “nol-Covid” yang ketat oleh Beijing, yang telah menyebabkan lonjakan kasus yang membuat sistem kesehatan yang rapuh tidak siap menghadapinya. (gas/rtr/kcm)

No More Posts Available.

No more pages to load.