Entin Gartini, dari Karyawan Resto Donat Jadi Desainer Terkenal di Kanada yang Kini Digandeng Amazon

oleh

Desainer Papan Atas

Peluang ini memberi kesempatan kepada Entin sejajar dengan desainer papan atas di Kanada. Lalu, berkesempatan wawancara media saat acara peluncuran, dukungan influencer di Instagram dan TikTok amazon. Dan yang paling penting, menampilkan beberapa bagian dari koleksi Entin Gartini di Amazon.ca.

“Saya juga tidak tahu mengapa amazon memberi peluang ini. Dulu saat menang (mendapat penghargaan) saya juga tidak tahu. Tapi, mungkin, karena karya-karya saya sudah dipublish di Instagram, website, atau medsos lain itu, sehingga mereka melihat karya saya di situ. Lalu tahu-tahu masuk nominasi, lalu tahu-tahu menang. Saya tidak tahu mereka dapat info dari mana? Juga Amazon ini tiba-tiba saya dihubungi via email,” katanya.

Karya Entin dinilai menarik, karena para juri menilai, dia berani mengambil warna-warna yang menantang. Mencolok. Wow. Terkesan glamor. Padahal sejatinya Entin ragu-ragu juga saat hendak meluncurkan koleksi dengan warna-warna yang menantang tersebut. Apalagi sejumlah temannya mengkritik pilihan warna dan desain dari karya tersebut.

“Saya dulu sempat ragu-ragu, sebab bertentangan dengan agama dan hati nurani saya, saat hendak mengeluarkan koleksi saya ini. Apalagi teman-teman muslim pasti menentangnya. Tapi saya tidak sedang berbicara atau mempromosikan agama, saya seorang seniman di bidang fashion, sehingga ada pertanyaan-pertanyaan, mengapa kreativitas seniman harus dibatasi dengan agama? Saya masih sering mendapat komen-komen miring yang tidak baik dari sesama muslim. Tapi sekali lagi, saya tidak sedang mempromosikan agama, saya mempromosikan wastra nusantara. Mempromosikan warisan budaya leluhur bangsa kita, yang bhineka tunggal ika, menjunjung tinggi, menghargai keberagaman, tapi tetap bersatu,” katanya.

Baca Berita Terkait:

Desainer Sugeng Waskito Semakin Menduniakan Candi Borobudur Lewat Batik Tulis di New York Indonesia Fashion Week

Untuk bisnis di bidang fashion ini, Entin selalu memikirkan UMKM. Dia pernah membuat enam koleksi baju pendek dan enam lagi busana muslim. Lalu apa hasilnya?

“Yang baju pendek (mini) ternyata jadi rebutan. Begitu juga baju-baju yang bisa dimodifikasi, misalnya bisa dipakai dengan hijab untuk muslim, tapi baju yang sama juga disuka oleh orang-orang bule. Di sinilah desainer dituntut kreatif. Orang bule pun bisa senang bila memakai karya kita. Yang harus dipikirkan, bahwa di balik bisnis ini ada UMKM yang butuh keberlanjutannya. Saya ingin bantu UMKM, khususnya di masa pandemi, agar bisa terus berkarya,” kata Entin.

Saat ini Entin bekerja sama dengan UMKM di Bantul, Yogyakarta, dengan Batik Gumregah yang dimiliki pengusaha bernama Eri. Dia menawarkan kerjasama saat UMKM sepi order diterpa pandemi Covid-19. Namun sekarang UMKM mitranya ini sudah bisa membeli rumah.

“Saya bahagia sekali bisa membantu UMKM ini. Dia (UMKM di Bantul) pun punya usaha sendiri, bahkan sekarang mempekerjakan orang-orang di kampungnya,” katanya.

Saat itu orderan pun bertambah banyak. Karena itu Eri pun harus mengajak generasi muda untuk belajar membatik. Menyelami sejarah leluhurnya lewat karya batik.

“Ya, karena orderan rame Mas Eri harus mengajak generasi- generasi muda untuk belajar membatik. Ini yang luar biasa supaya batik tidak pernah padam dan bukan hanya orang tua saja yang membatik, tapi juga para milenial,” katanya.

Inilah mengapa UMKM harus menembus pasar ekspor. Harus go global. Namun masalahnya tidak semua UMKM bisa diajak bekerjasama. Untuk itu dia pun mengajak kerjasama UMKM yang mau berinvestasi bagi masa depan. Bukan hanya menunggu produknya dibeli saja, tapi juga bersama –sama dengan Entin berusaha agar produknya terkenal hingga bisa ekspor ke Kanada atau negara lain.

UMKM tentu saja tidak bisa berjalan sendiri sehingga harus dibantu dan disupport oleh pemerintah daerah setempat. Hal ini karena Entin sendiri bukan designer yang memiliki banyak uang sebab dia harus bekerja keras untuk membuat produksinya. Karena itu keinginan menggandeng UMKM di Indonesia tidak semua bisa berjalan mulus karena UMKM tersebut tidak mempunyai modal.

Rata-rata UMKM yang digandeng brand Entin Gartini karena ada campur tangan dari pemerintah daerah setempat yang membantu UMKM tersebut dengan memberi biaya produksi dan shiping. Selain itu bisa pula dukungan bantuan dari BUMN seperti PT Pertamina, PLN, Bank BNI, dan lainnya.

“Saya uang bukan tinggal metik ya!? Saya juga bekerja keras agar bisa membiayai produksi koleksi-koleksi saya,” katanya.

Dia pun mengapresiasi Pemda-pemda yang membantu UMKM-nya ekspor dengan melibatkan brand Entin Gartini. Saat ini sudah antre kerja sama dari UMKM tenun Sumba. “Semoga juga UMKM dari Jatim bisa menyusul menjajal pasar ekspor ke Kanada melalui Entin,” katanya.

No More Posts Available.

No more pages to load.