Meski sempat bimbang, wanita asal Pangandaran, Jawa Barat, tersebut bisa bernapas lega karena karyawannya sudah dinyatakan negatif Covid-19. “Dan alhamdulillah hari ketujuh semua sudah negatif. Kadang memang kita membuat satu keputusan yang akhirnya harus kita lakukan. Saya berharap ilmuwan, dokter, medical Indonesia, bisa segera menjadikan risetnya untuk memastikan apa yang dipakai untuk terapis Covid-19,” pungkas Susi.
Sebelumnya, Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) menyetujui pelaksanaan uji klinis obat cacing Ivermectin untuk obat Covid-19. Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan, persetujuan uji klinis Ivermectin sebagai obat untuk Covid-19 ditetapkan berdasarkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Ada juga guideline dari WHO, dikaitkan dengan Covid-19 treatment yang merekomendasikan Ivermectin dapat digunakan dalam kerangka uji klinik,” kata Penny saat siaran pers yang ditayangkan melalui YouTube BPOM, Senin (28/6/2021).
Ia mengatakan, data-data epidemiologi dan publikasi global telah menunjukkan bahwa Ivermectin berpotensi digunakan untuk penanggulangan Covid-19. Penny mengatakan, uji klinis dilakukan di 8 rumah sakit antara lain RS Persahabatan dan RSPI Sulianti. Namun sejumlah kalangan meminta agar semua pihak berhati-hati mengkonsumsi obat ini.
Dekan FK UI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH mengatakan, BPOM memang sudah mengeluarkan izin edar untuk Ivermectin, tapi untuk indikasi sebagai obat cacing. Ini harus dipahami. Dijelaskan, obat cacing yang beredar biasanya memang menggunakan dosis tunggal, bukan obat yang dikonsumsi tiap hari. Terhadap cacing kerjanya akan membunuh, karena obat ini bekerja secara lokal di saluran pencernaan. Cacing yang mengganggu pencernaan, kalau kena obat ini akan langsung mati. Begitu juga dengan parasit lainnya.
Kenapa sekarang populer untuk pengobatan Covid-19? Ini didasarkan penelitian invitro, yaitu penelitian yang baru dilakukan di tingkat sel pada praklinik. Disebutkan, Ivermectin bisa menghambat virus Covid-19, tapi kalau masih penelitian invitro kita belum tahu dosisnya, pada binatang bagaimana, pada human bagaimana ketika mengalami infeksi.
“Ini sejatinya obat cacing. Ada beberapa efek samping yang muncul. Di pencernaan bisa menimbulkan mual muntah, sakit di ulu hati, sakit kepala, diare. Kalau dikonsumsi dalam jumlah besar atau dikonsumsi terusan dikhawatirkan akan mengganggu liver. Karena itu jangan buru-buru beli kalau tujuannya untuk pencegahan apalagi mengobati Covid-19. Tapi kalau untuk obat cacing, tidak masalah. Namun demikian tetap ada yang harus diperhatikan apakah memiliki riwayat alergi misalnya,” katanya.










