Ketua Gugus Tugas Kuratif Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi, saat ditanya soal Ivermectin hanya menjawab singkat, “Hati-hati…”
Sebelumnya epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, juga mengkritik Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang mempromosikan Ivermectin sebagai obat untuk pasien positif virus corona (Covid-19). Dicky menyebut terlalu banyak pejabat pemerintahan ikut berbicara soal penanganan Covid-19 padahal bukan bidangnya. Menurutnya, kondisi ini semakin membuat masyarakat pusing.
“Terlalu banyak orang bicara, ini bikin (masyarakat) pusing. Pejabat publik harus jelas (yang bicara) karena strategi pemerintah itu kan harus jelas terukur dan tegas. Yang dirujuk pun harus jelas arahnya,” kata Dicky dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (30/6/2021).
Dicky menyebut masalah penggunaan Ivermectin untuk pasien Covid-19 juga terjadi di negara lain. Namun, kata Dicky, pejabat di negara lain itu tak ikut mempromosikan penggunaan Ivermectin, seperti yang dilakukan Moeldoko. “Ya Ivermectin ada isunya, tapi ya cuma di medsos, tidak ada pejabat pemerintah yang nimbrung, komentar pun tidak,” ujarnya.
Menurut Dicky, sudah seharusnya pejabat-pejabat pemerintah yang tak memiliki kapasitas bidang kesehatan tidak berbicara apapun soal penggunaan Ivermectin atau dikenal obat cacing ini. Dicky khawatir masyarakat menjadi bingung dengan penanganan Covid-19 lantaran strategi komunikasi risiko yang dijalankan pemerintah tak tertata dengan baik.










