Kisah Alce Ganyau, Backpacker Dayak Tinggal di Jerman, Keliling Maroko (2): Bapak Jerman yang Baik, Anak Polisi yang Heboh

oleh
Saya, Youssef dan Ellias, menikmati keseruan keliling Maroko.

Perempuan backpacker itu sudah aneh. Tapi apa yang dilakukan Alce Ganyau lebih aneh lagi. Sudah seorang ibu, Alce Ganyau yang asli orang Dayak di pedalaman Kalimantan Timur dan kini tinggal di Jerman ini suka solo travelling membawa anak gadisnya, Ribka, yang masih sangat belia. Ibu dan anak ini keliling sejumlah negara melakukan roadtrip dan traveling gila. Termasuk ke negeri maghribi: Maroko. Begini bagian ke-2 ceritanya.

Oleh Gatot Susanto

Si Bapak Jerman Itu

BAGI seorang backpacker, masuk group traveller couchsurfing sepertinya wajib. Sebab dari grup ini kita bisa mendapat banyak informasi dan bantuan selama perjalanan. Saat keliling Maroko, saya mendapat contact couchsurfing untuk tujuan singgah dan bermalam di Tangier dari seorang bapak warga negara Jerman yang sudah berumur 62 tahun. Alasan utama memilih Bapak ini, selain sama-sama berasal dari Jerman, kami bisa berkomunikasi dalam bahasa dan karena sudah lama tinggal di Jerman, sudah mengenali dengan baik adat dan perilaku orang-orang dari negara ini.

Selain itu Bapak ini memiliki profile yang clear dan referensi yang baik tentangnya. Mempunyai pekerjaan yang jelas dan bisa dipercaya. Bapak ini bekerja sebagai direktur sebuah perusahaan logistic di Tangier. Dari mana saya tahu? Di profilenya ditulis dengan jelas dan setelah kita kenalan melalui WA bapak ini memberikan kartu nama dan alamatnya.

Saya dan anak saya, Ribka, dijemput di airport ketika kami tiba di Maroko. Bapak ini sendiri yang menawarkan untuk menjemput kami. Saya sebelum tiba sudah memberi tahu duluan jika saya hanya ingin menginap tiga malam saja di rumahnya. Di Tangier kami diantar ke mana-mana, diajak keliling-keliling mulai dari tempat wisata penting di Tangier, bahkan sampai tempat yang hanya orang Maroko saja yang tahu.

Hal yang paling membuat aku berterima kasih adalah kami diantar jalan-jalan ke Chefchaouen, sebuah kota kuno Maroko yang terkenal dengan julukan si Kota Biru. Padahal awalnya saya agak rada-rada bingung bagaimana nge-set jalan-jalan ke Chefchaouen karena selain tidak ada jalan kereta ke sana, juga informasi yang saya dapatkan untuk jalan-jalan ke sana itu masih agak semrawut sistemnya.

Namun keberuntungan ada di pihak saya. Kami bahkan tidak hanya diantar pulang pergi, tetapi juga diajak jalan-jalan melewati kota-kota lain di sekitarnya. Dibawa ke tempat makan murah-murah dan enak-enak. Di rumahnya, bapak ini bahkan selalu memasak untuk kami sebab dia hobinya memang masak. Setiap pagi di saat kami bangun, beliau selalu menyiapkan breakfast ala Jerman buat kami. Betapa beruntungnya kami.

Saya tentu saja berusaha berkontribusi, berusaha membayar makan jika kami makan di luar, membeli groceries jika kami ke supermarket. Menawarkan diri membeli atau membayarkan bensin untuk mobilnya yang dipakai jalan-jalan. Tapi bapak ini selalu menolak tawaran ganti ongkos bensinnya, yang sering diterima paling jika saya membayar makanan. Itu pun terkadang masih sering ditolak. Mungkin nggak nyaman dibayarkan perempuan kali ya?

Mungkin karena melihat saya antusias setiap hari yang penuh expressive, Bapak ini jadi tertarik untuk melakukan traveling bareng. Beliau menawarkan untuk keliling Maroko bareng. Mulai dari rumahnya di Tangier, ke kota-kota penting di Maroko, ke tempat-tempat yang dia juga belum pernah kunjungi, bahkan sampai di Padang Gurun Merzouga.

Kebayang khan kemana-mana diantar pake mobil pribadi, bahkan seperti ada pengawal? Bukan naik turun bus atau kereta seperti yang saya rencanakan? Oh, betapa mudah, murah dan amannya perjalanan ini nanti batinku.

Tapi dasar karakter saya seorang petualang sejati. Ditawarin kemudahan kayak gini aku kok malah gak suka ya? Dengan halus saya menolaknya.

Youssef dan Ellias

Karena sudah meng-cut Bapak Jerman tadi, malam kedua di rumahnya aku mulai buka file travelling communityku lagi. Lalu ada mahasiswa dari Rabat yang menawarkan untuk travelling sama-sama, share cost keliling Maroko. Intinya dalam perjalanan itu saya membayar 2.250 dirham (mobilnya kami sewa) plus biaya bensin dibagi bersama selama perjalanan dan tujuan boleh ke mana aja sesuai persetujuan bersama selama 12 hari (cuma 12 hari karena masa tinggal saya sudah kepotong di Tangier).

Katanya, jika aku keberatan membayar sejumlah di atas, kita bisa tambah orang lagi supaya lebih ringan lagi biayanya. Tapi aku langsung menolak! Perjalanan 12 hari keliling naik mobil bahkan boleh ke mana saja dengan biaya 2.250 dirham itu cuma sekitar 220€ atau kata mbah google, it’s cost nothing looh. Aku nggak mau banyak-banyak orang di mobil, aku nggak mau rame. Jadilah kami berangkat cuma ber-4. Aku dan anakku, Ribka, Youssef dan temannya, Ellias, yang anak seorang komisaris polisi di Rabat.

Walaupun tadinya aku penuh perasaan ragu terhadap Youssef karena hanya mengenalnya dari media Couchsurfing, tapi saya merasakan energy yang baik saat chatting dengannya di WA. Jadi walaupun melihat profilenya yang kosong tanpa referensi dan dia seorang Maroko asli, saya memberanikan diri setuju jalan bareng dengannya
Kami bikin janji ketemu dengannya di Kota Rabat, aku dan Ribka naik kereta dari Tangier ke sana. Dan anak muda ini menjemput kami di stasiun kereta Rabat tanpa memungut biaya. Lalu kami diajak ke rumahnya dan dikenalkan dengan orang tua dan saudaranya.

Youssef adalah seorang mahasiswa cerdas yang mendapat beasiswa mulai dari SMA kerena kepintarannya akan matematika dan fisika. Dia mahasiswa khusus yang belajar tentang nuklir, dan dapat berbahasa Inggris dengan sangat fasih.

Youssef membawa Ellias, anak seorang Kepala Komisaris Polisi Ibukota Rabat. Alasannya membawa anak ini karena kami bisa memanfaatkan pengaruh bapaknya Ellias. Kami meminjam lambang polisi tertentu dari bapaknya untuk ditaruh di kaca depan mobil untuk mendapatkan special treat dan respect serta menjaga keamanan kami di jalan!
Membawa lencana polisi yang ditempel di depan mobil membawa kemudahan dan pengalaman tersendiri. Paling enggak, untuk parkir gak pernah ada yang berani minta duit, hahaha..

Yang ini sering bikin ketawa, karena pas tukang parkir minta duit parker, begitu melihat lencana, mereka langsung mundur bilang gak usah bayar, hahaha… Biaya parkir nggak mahal memang, tapi kami puas bisa ngerjain tukang parkir.

Ada lagi, di Maroko kontrol polisi di jalan sangat ketat. Aparatnya juga masih suka korupsi dan cari celah buat malak kendaraan di jalan. Karena orang sering membawa kendaraan tanpa surat menyurat yang lengkap bahkan terkadang tanpa SIM. Maka polisi sering melakukan penyetopan kendaraan di jalan dan melakukan pengecekan surat menyurat. Selain itu mereka sering mengontrol orang asing dan mencari-cari kesalahan supaya dapat uang lebih, nilep ceritanya. Nah, kami juga sering distop, tapi biasanya begitu lihat lencana langsung dibiarin lewat.

Sialnya, pas dalam perjalanan pulang menuju Ibukota Rabat kami distop untuk alasan yang tidak jelas, kesalahan yang dicari-cari. Kami diminta membayar 400 dirham, tentu saja anak 2 ini menolak habis-habisan. Tapi polisi memaksa dan meminta kami tetap membayar walaupun mereka sudah melihat lencana yang ada, namun mereka tidak peduli.

Akhirnya Ellias menelepon Bapaknya. Maka Bapaknya Elias meminta bicara dengan polisi yang menahan kami. Begitu telepon diberikan, polisi yang tadinya keras banget dan ngotot meminta kami membayar langsung mengkeret merunduk-runduk meminta maaf karena telah mengganggu perjalanan kami. Sungguh seru.

Walaupun Youssef berasal dari keluarga kelas menengah dan memiliki rumah yang disewakan lewat Airbnb, Ellias yang seorang anak Komisaris polisi ibukota, dua anak ini hemat habis. Apa-apa nggak mau yang mahal, apa-apa nawarin sampe teler. Jadi masuk hotel, beli makanan atau apa pun kita selalu berusaha mendapatkan tarif seminimum mungkin.

Ellias pintar bermain music, kami membawa gitar dan tabla di mobil. Di mana pun kami stop dan mengaso kalo ada tempat yang bagus untuk bermain musik dia akan memainkannya. Bahkan sering dalam perjalanan yang panjang di dalam mobil, dia memainkan gitarnya dan kami bernyanyi bersama-sama. Walaupun jalan jauh gak terasa dan tidak membosankan. Nah lagi-lagi beruntung, bukan?

Pengalaman paling lucu terjadi di Kota Essaouira, ketika kami yang kelaparan duduk makan di restoran, ada grup musik datang mengamen pake tabla dan biola. Karena kurang puas dengan permainan pengamen, si Ellias meminjam alat mereka dan memainkan alat musiknya sambil terkadang bernyanyi. Melihat dia bermain dengan indah, tak tahan aku bangkit berdiri dan menari belly dance. Orang di dalam restoran pun bersorak seru dan ramai sekali mendukung kami, apalagi terhadap saya yang turis. Suasana jadi hangat dan bikin semua orang senang. Si pemilik restaurant pun karena senang memberikan kami gratis minuman.

Dalam perjalanan kami, saya dianggap cukup baik oleh dua pemuda itu. Mereka sangat respect sama saya dan sangat melindungi. Dalam perjalanan kami karena mereka dua full yang menyetir, jadi saya mau mengimbangi kebaikannya dengan sering mentraktir makan. Lagian karena memang murah. Sistem makan di Maroko juga sama seperti di Indonesia, apa pun yang kita pesan bisa kita share dan dimakan bersama-sama.

Karena sering menceritakan tentang perjalanan kami dan bagaimana aku sering mentraktir mereka, orang tua ke dua pemuda itu justru penasaran ingin bertemu dengan saya. Mereka mengundang saya dan Ribka ke Rabat untuk bermalam di rumah mereka sebelum kami pulang ke Jerman.

Kami ke rumahnya , rumah kedua orang tua Youssef dan Ellias. Dijamu ala keluarga Maroko dan diterima dengan ramah sekali. Serasa aku dan Ribka telah menemukan keluarga baru di sini. Ketika pergi kami juga diantar ke stasiun dan di-wanti-wanti kalau ke Rabat lagi suatu hari nanti tidak boleh tinggal di hotel tapi tinggal di rumah mereka saja. Amiin. (Bersambung*)

No More Posts Available.

No more pages to load.