Kisah Perjalanan Diplomat Muda Indonesia (Bagian 6): Direktorat Diplomasi Publik

oleh
Arya Daru Pangayunan, Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires.

Inilah kisah diplomat muda Arya Daru Pangayunan yang sangat inspiratif. Dia adalah Sekretaris Ketiga Fungsi Politik di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili (2018-2020); dan Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires sejak 2020 sampai sekarang. Berikut bagian ke-6 kisahnya.

Oleh Arya Daru Pangayunan

Slip Kuning

SEKEMBALINYA dari magang di luar negeri, seluruh peserta Diklat, baik Sekdilu, PKKRT, maupun PK dikumpulkan di Pusdiklat Kemlu. Para peserta Diklat berkesempatan untuk melepas rindu dan bertukar cenderamata dengan rekan-rekan yang magang dari berbagai negara. Namun bukan itu tujuan kami dikumpulkan. Tujuan utama para peserta Diklat dikumpulkan kembali adalah untuk pembagian “slip kuning”, selembar kertas yang menunjukkan Unit Eselon I, tempat kita akan bekerja di Kemlu.

Semua sangat penasaran siapa akan ditempatkan di unit mana. Banyak pula yang raut mukanya tampak khawatir, mungkin karena takut tidak akan mendapatkan unit yang sesuai dengan keinginan mereka. Setelah membaca isi slip kuning yang dibagikan kepada saya, ternyata saya ditempatkan di Direktorat Jenderal (Ditjen) Informasi dan Diplomasi Publik (IDP) bersama dengan 5 rekan Sekdilu 38 lainnya, yaitu Stiffan, Alfons, Risa, Rina, dan Tia. Beberapa hari kemudian kami berenam melapor ke Sesditjen IDP yang ketika itu dijabat oleh Bapak Simson Ginting. Kami diminta menulis preferensi Unit Eselon II yang diinginkan untuk menjadi pertimbangan tempat penugasan. Terdapat 5 pilihan Unit Eselon II di Ditjen IDP, yaitu:

-Direktorat Diplomasi Publik (Diplik);
-Direktorat Informasi dan Media (Infomed);
-Direktorat Kerja Sama Teknik (KST);
-Direktorat Keamanan Diplomatik (Kamdip); dan
-Setditjen IDP.

Unit Eselon II yang menjadi pilihan pertama saya adalah Infomed karena saya suka fotografi dan hal-hal yang berkaitan dengan media. Pilihan kedua saya adalah KST karena Ibu Direkturnya terkenal gaul dan ramah. Setelah beberapa hari menunggu, ternyata kedua pilihan saya tidak ada yang terwujud dan ternyata saya ditempatkan di Diplik. “Why Diplik?”, dalam hati saya, karena saya tidak mengira akan ditempatkan di Diplik dan tidak punya bayangan sama sekali mengenai apa-apa saja yang dikerjakan oleh Diplik. Walau masih buta dengan Diplik, saya tetap menyatakan siap menjalankan tugas. Dari sekian banyak Unit Eselon II, ternyata Sekdilu 38 di Ditjen IDP hanya dibagi penempatannya di Diplik dan Infomed. Saya di Diplik bersama Alfons dan Tia, sedangkan Stiffan, Rina, dan Risa di Infomed – tidak ada yang ditempatkan di KST, Kamdip, maupun Setditjen.

Mengenal Direktorat Diplomasi Publik

Setelah Unit Eselon II kami telah dibagi, kami melapor ke Direktur masing-masing. Saya, Alfons, dan Tia menghadap Bapak Al Busyra Basnur yang menjabat sebagai Direktur Diplomasi Publik. Oleh Pak Al – sapaan akrab beliau–, kami disambut dan diperkenalkan dengan tempat kerja baru kami di Diplik. Terdapat 5 Unit Eselon III di Diplik yaitu:

-Sub-Direktorat (Subdit) Politik dan Keamanan (Polkam);
-Subdit Sosial dan Budaya (Sosbud);
-Subdit Isu-Isu Aktual dan Strategis (IAS);
-Subdit Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang); dan
-Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) di Bandung.

Namun pada tahun 2017, Diplik mengalami penambahan Subdit baru yaitu Subdit Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (PMILN) – sehingga total terdapat 6 Unit Eselon III. Sesuai dengan kebutuhan masing-masing Subdit saat itu, saya ditempatkan di Subdit Polkam; Alfons di Subdit Sosbud; dan Tia ditempatkan di MKAA, Bandung – karena kebetulan Tia adalah orang Bandung dan MKAA sedang membutuhkan seorang diplomat. Beruntung ketika masuk di Diplik ada Mas Iqbal, Kepala Sub-Bagian (Kasubag) Tata Usaha (TU) yang sangat supel dan ramah, yang membantu saya dengan segala urusan administrasi. Oleh Mas Iqbal saya diperkenalkan dengan semua Kepala Subdit (Kasubdit) dan staf di Diplik. Di Subdit Polkam, saya bekerja di bawah Bapak Agus Badrul Jamal yang menjadi Kasubdit Polkam, bersama seorang senior bernama Mas Mul. Oleh Pak Agus, yang akrab dipanggil Abah, saya diperkenalkan dengan segala program yang dikerjakan oleh Subdit Polkam, seperti:

-Presidential Friends of Indonesia (PFoI);
-Working Group on Democracy and Civil Society (WGDCS);
-Dialogue for Peace and Democracy (DPD);
-Bilateral Inter-Media Dialogue (BIMD); dan
-Bali Democracy Forum (BDF).

No More Posts Available.

No more pages to load.