Kisah Perjalanan Diplomat Muda Indonesia (Bagian 6): Direktorat Diplomasi Publik

oleh
arya daru
Arya Daru Pangayunan, Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires.

Alarik Almajid Pangayunan

Baru beberapa bulan di Diplik, istri saya melahirkan anak kedua kami yang diberi nama Alarik Almajid Pangayunan, tepatnya pada tanggal 20 Mei 2015. Saya sangat bersyukur proses kelahiran anak kedua ini lancar dan saya bisa memperoleh ijin dari Pak Direktur untuk mendampingi istri saat Alarik lahir. Awalnya saya cukup khawatir – terutama dari segi finansial, ketika mengetahui istri hamil dengan anak kedua, karena pendapatan PNS Kemlu tidaklah besar.

Ketika pertama kali masuk ke Diplik, saya memperoleh gaji pokok plus tunjangan anak-istri kurang dari Rp 3,5 juta per bulan dan juga tunjangan kinerja tidak sampai Rp 4 juta per bulan. Saya sering berpikir, “Bagaimana saya bisa membiayai 2 anak?”, jauh lebih besar gaji saya selama menjadi LS di Yangon. Tapi saya kemudian yakin, dengan terus bekerja dan berdoa, rejeki akan terus mengalir. Benar saja, setelah Alarik lahir, rejeki selalu datang, dari uang perjalanan dinas, honor program dan kegiatan, serta kesempatan training di luar negeri.

Bali Democracy Forum

Tiap-tiap Direktorat pasti memiliki program yang harus dijalankan. Kebetulan Diplik – khususnya di Subdit Polkam memiliki program yang cukup heboh, yang merupakan event yang cukup besar, yaitu Bali Democracy Forum (BDF). Hingga buku ini ditulis, saya telah 3 kali menangani BDF. Apa itu BDF? BDF adalah sebuah forum antar pemerintah yang bersifat tahunan, inklusif, dan terbuka yang membahas mengenai perkembangan demokrasi yang diinisiasi ketika Kemlu berada di bawah kepemimpinan Bapak Hassan Wirajuda di tahun 2008.

BDF diciptakan guna membantu mewujudkan terbentuknya democratic architecture yang kokoh di kawasan melalui praktik sharing of experiences and best practices dengan menganut prinsip-prinsip persamaan, saling pengertian dan menghargai. BDF juga menjadikan demokrasi sebagai agenda strategis dalam mewujudkan pembangunan ekonomi dan politik, menciptakan perdamaian dan stabilitas kawasan, serta memajukan kualitas penegakan HAM. Pada awalnya, BDF hanya ditujukan bagi negara-negara di Kawasan Asia Pasifik, namun seiring waktu jumlah undangan semakin bertambah.

Walaupun sejatinya BDF adalah forum tingkat Menteri, beberapa Kepala Negara/Pemerintahan juga turut diundang. Banyaknya undangan dan tingginya level partisipan inilah yang menyibukkan saya selama bekerja di Subdit Polkam. Selain mempersiapkan bahan substansi seperti Program of Work, Concept Paper, dan sambutan Menlu pada BDF, urusan korespondensi ke negara-negara peserta dan peninjau, serta organisasi internasional menjadi salah satu aspek yang paling menantang bagi saya dalam mempersiapkan penyelenggaraan BDF.

Pengalaman menjadi panitia inti sebuah event besar seperti BDF mengajarkan saya banyak hal, antara lain terkait koordinasi, korespondensi, speech writing, pengelolaan anggaran, protokol, dan masih banyak lagi. Di samping memberikan pengalaman, menjadi panitia inti dari kegiatan besar seperti BDF tentu memberikan pemasukan ekstra bagi saya, dari honor kegiatan, sampai uang perjalanan dinas, terlebih karena dalam kurun waktu 1 tahun, saya bisa bolak-balik Jakarta-Bali hingga berkali-kali untuk mempersiapkan kegiatan BDF.

No More Posts Available.

No more pages to load.