Saya sangat beruntung mendapatkan banyak bantuan dari Mas Maulana, sekretaris Pak Hassan yang sangat ramah dan supel. Mas Maulana tidak ikut mendampingi ke Brussel, namun sudah lebih dulu menyiapkan bahan substansi Pak Hassan dan memberikannya kepada saya. Mas Maulana juga banyak memberikan berbagai tips bagaimana melayani Pak Hassan dan berbagai preferensinya.
Sebagai pendamping Pak Hassan, saya dituntut untuk sigap, memenuhi segala kebutuhan beliau. Saya berangkat bersama Pak Hassan menggunakan maskapai Singapore Airlines dengan transit terlebih dahulu di Singapura dan Zurich. Tugas yang secara sigap saya lakukan selama berada di bandara adalah membantu proses check-in, membawakan carry-on luggage beliau, dan mendampingi beliau selama menunggu di Business Class Lounge – meskipun tiket saya adalah kelas ekonomi.
Ketika boarding di Bandara Soekarno-Hatta, saya mengantarkan beliau hingga seat beliau di kelas bisnis, di bagian depan Boeing 777 yang kami naiki. Saya sengaja memesan seat kelas ekonomi yang berada di paling depan, persis dibelakang kelas bisnis, sehingga dapat dengan sigap membantu Pak Hassan jika sewaktu-waktu diperlukan, sesuai dengan saran Mas Maulana. Mendarat di Singapura, kami disambut oleh seorang LS KBRI Singapura yang mengantarkan kami ke Business Class Lounge Singapore Airlines di Bandara Changi.
Saya cukup terkesan dengan loungenya yang mewah dengan aneka pilihan makanan dan minuman yang luar biasa banyaknya. Perasaan saya antara girang, namun juga cukup tegang, karena selalu berada di samping Pak Hassan. Ketika dipersilakan mengambil makan dan minum oleh beliau, saya hanya mengambil ala kadarnya karena saya sangat menjaga image saya di depan beliau. Seandainya saya di lounge sendiri pasti akan makan dan minum dengan lahap. Setelah menunggu beberapa jam di lounge, tiba saatnya boarding untuk terbang menuju Zurich. Saya sangat excited karena saya untuk pertama kalinya akan terbang menggunakan Airbus A380, pesawat super jumbo yang begitu besar.
Ketika boarding, Pak Hassan mengatakan bahwa saya tidak perlu mengantarkan beliau ke seatnya, karena kelas bisnis di Airbus A380 berada di lantai atas, sedangkan kelas ekonomi berada di lantai bawah sehingga akan merepotkan dan mengganggu penumpang lain jika saya harus mengantar beliau ke atas. “Phew”, lega hati saya membayangkan betapa ribetnya jika harus mendampingi beliau sampai di seat beliau.
Penerbangan memakan waktu lebih dari 13 jam dan cukup melelahkan. Setibanya di Zurich, kami disambut oleh Ibu Duta Besar Linggawaty Hakim, Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein. Selama menunggu connecting flight kami ke Brussel, kami ditemani oleh Ibu Dubes sembari ngopi di Bandara Zurich hingga tiba saatnya boarding. Saya sebagai penggemar aviasi juga cukup excited karena penerbangan dari Zurich ke Brussel menggunakan maskapai Swiss Air dengan armada Avro RJ100, pesawat kecil dengan 4 buah mesin jet yang cukup langka di Indonesia.
Kami tiba di Brussel pada siang hari, disambut oleh beberapa HS dan LS, kemudian langsung diantarkan ke Wisma Indonesia untuk beristirahat. Kebetulan saat itu kursi Duta Besar di KBRI Brussel sedang kosong karena Bapak Duta Besar Havas Oegroseno belum lama selesai dari masa tugasnya disana. Namun lucunya, beliau juga diundang untuk berbicara pada seminar yang akan dihadiri Pak Hassan di Brussel ini. Benar saja, tidak lama setelah tiba di Wisma, muncul sosok Pak Havas yang menyapa kami yang juga belum lama tiba di Brussel dari Jakarta, namun dengan maskapai yang berbeda. Malam harinya Pak Hassan dan Pak Havas menghadiri welcoming dinner yang diselenggarakan oleh Friends of Europe.
Karena undangan terbatas, saya tidak ikut bersama Pak Hassan pada acara dinner tersebut, tapi diajak makan malam oleh Pak Riaz Saehu, Counsellor KBRI Brussel. Setelah kembali ke Wisma, saya dipanggil oleh Pak Hassan untuk membantu beliau menyelesaikan speech yang akan beliau bacakan keesokan harinya. Beliau mendikte dan saya mengetik semua yang beliau ucapkan. Saat itu, saya semakin kagum pada sosok Pak Hassan karena wawasannya yang begitu luas tercermin dari semua kata, semua kalimat yang saya ketik, yang berisi ide-ide dan pengetahuan yang luar biasa.
Kami bekerja hingga dini hari dan tidak ada kata lelah bagi Pak Hassan. Dengan waktu tidur yang sangat singkat, kami sudah harus bangun pagi untuk menghadiri acara seminar. Selama seminar, tugas saya adalah mengambil foto, mengirimkan tweet mengenai seminar tersebut, dan menyusun laporan kegiatan. Di hari berikutnya, setelah menyelesaikan laporan, kami mendapatkan kesempatan untuk melihat-lihat Brussel, walau hanya sebentar.
Pak Havas mengajak Pak Hassan untuk jalan-jalan ke sebuah toko buku di pusat kota Brussel dan kami lebih banyak menghabiskan waktu disana. Di toko buku itu, Pak Hassan membeli lebih dari 10 buku yang tebal dan berat mengenai politik, ekonomi, sejarah, dan hubungan internasional, Pak Havas juga membeli sekitar 3 buku. Ini menyadarkan saya, bahwa Pak Hassan dan Pak Havas adalah orang-orang hebat karena rajin membaca. Setelah kurang dari 3 hari di Brussel dan jetlag belum berakhir, saya sudah harus terbang kembali ke Jakarta, namun saya nikmati. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh ketika mendampingi Pak Hassan di Brussel.














