Selain menjalankan program-program utama di Diplik, banyak pula kegiatan-kegiatan yang merupakan penugasan langsung dari Direktur, bahkan ada pula penugasan yang langsung turun dari Direktur Jenderal (Dirjen) IDP yang saat itu dijabat oleh Ibu Duta Besar Esti Andayani. Saya beberapa kali mendampingi Pak Al mengisi kuliah umum di berbagai universitas, bahkan hingga ke daerah, karena salah satu tugas Direktorat Diplomasi Publik adalah untuk mendiseminasikan informasi terkait politik luar negeri Indonesia.
Selain mendampingi Pak Al, saya juga pernah ditugaskan untuk mendampingi Bu Dirjen bertemu dengan tokoh penting seperti K.H. Hasyim Muzadi yang menjadi pengalaman tersendiri. Kapan kita sebagai diplomat merasakan cocktail party yang selama ini dibayangkan? Sangat jarang. Selama saya bertugas di Diplik, saya hanya 2 kali memperoleh undangan menghadiri resepsi diplomatik negara lain yaitu dari Kedutaan Jerman dan Kedutaan Meksiko di Jakarta. Selebihnya kami hidup layaknya PNS di instansi lain, sehingga bisa dibilang pendapat mengenai diplomat yang identik dengan cocktail party dan kemewahan itu sangat overrated.
Pergantian Orang
Sebagai diplomat, tempat penugasan selalu berpindah, rata-rata 3 tahun di Jakarta dan 3 tahun penempatan di luar negeri. Salah satu akibat positif dari hal tersebut adalah bahwa seorang diplomat dapat mengenal banyak orang. Ketika bekerja di suatu unit di Jakarta atau di suatu Perwakilan RI, akan selalu ada orang yang datang dan pergi, tidak terkecuali di Diplik.
Selama berada di Diplik, saya mengenal cukup banyak orang yang kemudian harus berpisah karena mereka harus berangkat penempatan atau posting ke Perwakilan RI di luar negeri, sebut saja Mbak Dhila yang berangkat ke Oslo; Pak Made dan Pak Tangkuman ke Port Moresby; Mas Angga ke Helsinki; Pak Jo ke Mumbai; Mas Iqbal ke Zagreb; Mbak Annisa ke Chicago; Mas Mul ke Riyadh; Mas Apung ke Seoul; Mbak Ainan ke New York; Abah ke KL; dan Mbak Orchid ke Melbourne.
Saya juga mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan rekan-rekan, senior-senior yang baru pulang posting yang kemudian ditempatkan di Diplik. Ada Mbak Mia dari Alger; Mas Alex dari Athena; Pak Agus Heryana dari Tokyo; Pak Arif dari Bangkok; Mas Wahoy dari Praha; Mbak Lia dari Yangon; Mas Devdy dari Brussel; Mas Arief dari Riyadh; dan Mbak Isana dari Johor Baru. Saya sempat mengenal Mbak Lia saat saya menjadi LS di Yangon dan tidak menyangka bahwa kami kembali menjadi kolega di Diplik.
Atasan juga selalu berganti, sehingga diplomat dituntut untuk selalu dapat menyesuaikan style dan ritme kerja pimpinannya. Ketika berada di Diplik, saya sempat mengalami pergantian atasan, baik di tingkat Dirjen, Direktur, maupun Kasubdit. Pada bulan Januari 2017, Ibu Duta Besar Esti Andayani tidak lagi menjabat sebagai Dirjen IDP karena beliau ditugaskan menjadi Duta Besar RI di Roma, Italia. Pejabat pengganti sementara yang menggantikan Ibu Esti adalah Ibu Duta Besar Niniek Kun Naryatie, yang ketika itu menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri, hingga pada bulan September 2017, Bapak Cecep Herawan diangkat sebagai Dirjen IDP yang baru. Pada bulan September 2017 juga, terjadi pergantian Kasubdit Polkam. Mas Devdy yang baru pulang dari Brussel menggantikan Abah yang berangkat posting ke KL. Kemudian pada awal Januari 2018, terjadi pergantian Direktur Diplik, dari sebelumnya Bapak Al Busyra Basnur yang digantikan oleh Bapak Azis Nurwahyudi.














