Kembali Hidup di Jakarta
Bekerja sebagai seorang diplomat di Kementerian Luar Negeri, berarti saya harus kembali menghadapi kerasnya kehidupan di Jakarta. Seusai pendidikan Sekdilu dan sepulang magang dari Perwakilan di luar negeri, saya sudah tidak dapat lagi tinggal di asrama Wisma Ahmad Soebardjo dan harus mencari tempat tinggal sendiri. Setelah berdiskusi dengan Pita, saya memutuskan untuk mencari kos yang nyaman yang tidak terlalu jauh dari kantor.
Lho, tidak tinggal bersama Pita dan Althea? Pertanyaan itu banyak terlontar dari teman-teman dan juga saudara-saudara. Tidak. Saya memutuskan untuk tinggal sendiri di Jakarta, sementara Pita dan Althea tetap di Jogja bersama mertua. Apa pertimbangannya? Pertama, kondisi keuangan masih sangat mepet, belum bisa membeli ataupun mencicil properti di Jakarta. Kontrak rumah yang layakpun masih berat.
Kedua, saya sering melihat para senior yang tinggal di “Jakarta coret” seperti Bekasi, Depok, atau Bogor, untuk berangkat dan pulang kerja harus berdesakan setiap hari menggunakan kendaraan umum, atau berkutat dengan kemacetan. Bertemu anak istri pun pasti hanya di akhir pekan karena harus berangkat di pagi buta dan pulang sangat malam. Saya belum siap untuk hal itu.
Ketiga, sekolah bermutu untuk Althea di Jogja lebih terjangkau. Dengan kondisi ini, saya bisa pulang ke Jogja sebulan 1 sampai 2 kali. Kondisi ini sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika saya masih di Myanmar yang jarang sekali bisa pulang. Saya dapat kos di daerah Kwitang yang jaraknya hanya sekitar 5 menit naik motor dari kantor. Kalaupun terpaksanya jalan kaki, hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit. Kamar kos saya tidak bisa dibilang murah, Rp 1,8 juta per bulan, namun kondisinya jauh lebih baik dibandingkan kamar kos saya di Kelapa Gading ketika saya menjadi tutor di WSI.
Bapak kos saya bernama Pak Bram, Direktur Eksekutif PPM Manajemen di Tugu Tani, tinggal satu atap, sehingga kos terkesan homey karena ada figur seorang Bapak di kos. Lebih-lebih saya juga diijinkan masak di dapurnya, menyimpan makanan di kulkasnya, dan menonton TV di ruang TV-nya sehingga tidak terlalu berasa seperti tempat kos. Untuk sarapan, saya hanya memasak air panas untuk menyeduh oats. Sok sehat, tapi sebenarnya hanya malas masak yang lain. Makan siang biasanya di kantin kantor, dan setelah pulang kantor biasanya beli makanan di kaki lima sekitar Kwitang.
Banyak pilihan tersedia, tapi yang paling sering saya pesan antara nasi goreng, sate ayam, dan pecel lele, sampai-sampai penjualnya sudah hafal dengan saya. Walaupun diijinkan masak di dapur Pak Bram, tapi kenyataannya tenaga sudah tidak ada untuk masak. Setelah beberapa bulan kos di tempat Pak Bram, saya mendapat telepon dari Tanto, teman kuliah saya – yang mengikuti tes CPNS Kemlu 2013 bersama saya.
Dia membutuhkan tempat menginap karena akan mengikuti tes CPNS di Kementerian Pariwisata. Tanto sempat menginap beberapa malam ketika mengikuti rangkaian tes di Jakarta. Beberapa bulan kemudian saya diberi tahu Tanto bahwa dia diterima di Kementerian Pariwisata. Senang mendengarnya. Di awal masa kerjanya, Tanto sempat kos di tempat lain, tapi tidak lama kemudian pindah kos ke tempat Pak Bram, dengan kamar persis di sebelah kamar saya. Tanto, teman kuliah, menjadi teman kos saya di tempat Pak Bram, yang membuat tinggal di rumah Pak Bram semakin nyaman karena ada teman yang dikenal.














