Kisah Perjalanan Diplomat Muda Indonesia (Bagian 6): Direktorat Diplomasi Publik

oleh
arya daru
Arya Daru Pangayunan, Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires.

Bilateral Inter-Media Dialogue (BIMD)

Selain menjalankan berbagai program di dalam negeri, ketika bekerja di Diplik saya juga mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Jerman menjadi negara yang pertama saya kunjungi sejak mulai bekerja di Diplik. Saya melakukan perjalanan dinas ke Jerman pada bulan September 2015, menyelenggarakan program BIMD di Berlin. Saya berangkat bersama dengan Abah dan Mas Mul.

Karena kebetulan program BIMD ini disinergikan dengan program Dialog Lintas Agama (DLA) yang dijalankan oleh Subdit Sosbud, banyak rekan Subdit Sosbud yang turut serta, ada Mbak Mey, Mas Dikmas, dan Alfons. Bu Dirjen dan Pak Direktur juga turut serta sebagai unsur pimpinan dalam program tersebut. Untuk program BIMD di Berlin, kami membawa 2 orang narasumber, yang pertama adalah Bapak Pung Purwanto, Pemimpin Redaksi Koran Sindo, dan yang kedua adalah Bapak Imam Wahyudi, seorang anggota Dewan Pers Indonesia.

Selain mengadakan dialog di Kementerian Luar Negeri Jerman, kami berkesempatan melakukan kunjungan ke berbagai kantor media di Jerman. Perjalanan ke luar negeri dalam rangka BIMD kembali saya lakukan di tahun 2017, kali ini ke Tunis, Tunisia, sekaligus menjalankan pilot project “BDF Chapter” yang dihadiri oleh Ibu Menlu. Pada kegiatan BIMD di Tunis, kami membawa 2 orang narasumber dari Jakarta, Ibu Jati Savitri – yang akrab dipanggil Mbak Jati, Newsroom Manager Metro TV dan Bapak Trias Kuncahyono, senior editor harian Kompas.

Setelah selesai kegiatan BIMD dan BDF Chapter Tunis, kami diajak berkeliling kota Tunis oleh Bapak Dubes Ikrar Nusa Bhakti, Duta Besar RI untuk Tunisia hingga ke El Jem. Yang tidak terlupakan bagi saya adalah ketika saya diberi kepercayaan mengemudikan mobil KBRI – sebuah Volkswagen Transporter dari El Jem kembali ke Tunis, sekaligus membantu Mas Aries, LS KBRI Tunis yang sudah tampak lelah karena seharian nyetir dan mengantarkan tamu.

Mungkin banyak orang akan berpikir, “Wah, enaknya, jalan-jalan terus kerjanya!” Well, jalan-jalannya memang enak, tapi dibalik itu bisa dibilang para diplomat “berdarah-darah” dalam menyiapkan kegiatan agar dapat berjalan dengan sempurna, mulai dari penyusunan kerangka acuan kerja, rancangan anggaran belanja, mencari narasumber, mempersiapkan substansi, menyusun agenda, berkoordinasi dengan pihak counterpart, hingga pengurusan administrasi perjalanan dinas luar negeri.

Menjadi Asisten Bapak Dr. N. Hassan Wirajuda

Di akhir tahun 2015, Diplik mendapatkan berita dari KBRI Brussel bahwa sebuah lembaga think-tank bernama Friends of Europe akan mengadakan seminar di Brussel dan meminta kehadiran Bapak Dr. N. Hassan Wirajuda, Menteri Luar Negeri RI periode 2001-2009, sebagai narasumber. Arahan Direktur, karena sumber pembiayaan keberangkatan Pak Hassan berasal dari anggaran Diplik, sebisa mungkin yang mendampingi Pak Hassan di Brussel adalah staf dari Diplik. Karena hampir semua orang di Diplik fokus pada persiapan BDF 2015, sayalah yang diminta Pak Al untuk mendampingi Pak Hassan. Perasaan saya campur aduk saat itu, di satu sisi sangat excited, di satu sisi sangat gugup, harus mendampingi seorang mantan Menlu.

No More Posts Available.

No more pages to load.