Melihat WNI Bisnis Tahu Tempe di Turki: Persaingan Ketat Antar-WNI Maupun China dan Thailand

oleh

Tantangan Bisnis

Riau Hadidah

Riau Hadidah, WNI yang juga menikah dengan orang Turki bernama Adem Oprak, dan sekarang tinggal di Kota Fethiye, mengaku berjualan tahu tempe di Turki. Namun dia tidak memproduksi sendiri. Dia kulakan pada seorang mahasiswa Indonesia di Turki yang membuat tempe dan tahu. 

“Saya fokus membuat dan menjual sambel, cabe, sama beberapa sayuran & bumbu tropis saja,” katanya kepada Global News dan DutaIndonesia.com.

Riau Hadidah membenarkan rata-rata orang Indonesia berjualan produk tahu dan  tempe di Turki. Pengusaha tempe asal Indonesia yang besar ada di Ankara. “Ada pabriknya juga kalau gak salah. Cuma ada juga pesaingnya khusus produksi tahu berbagai macam varian. Malah saingannya ini tembus supermarket,” ujarnya. 

Dia mengaku tidak sanggup memproduksi sendiri. Sebab selain ribet bahan baku kedelai mahal dan raginya harus impor. “Saya kurang berminat membuat, sebab sudah banyak orang membuat tahu tempe di sini. Saya lebih baik memasok kedelainya saja,” katanya, membaca peluang bisnis di sekitar tahu tempe. 

Tantangan bisnis tahu tempe di Turki sama dengan di Indonesia. Banyak pesaingnya. Mulai dari China hingga Thailand juga menjual tahu tempe.

 “Sama dengan pengusaha di Ankara tadi, mereka yang dari China dan Thailand  ini sudah besar.  Pasarnya supermarket yang menyediakan berbagai macam makanan dari berbagai negara. Orang China fokus di tahu sama makanan vegan lainnya. Mereka juga produksi toge kalengan,” katanya.

Belajar bisnis dari orang China, mereka memproduksi tahu disesuaikan dengan selera pasar orang Turki.  “Tahunya gak macam kita orang Indonesia. Tapi sudah disesuaikan juga sama lidah orang Turki. Yang menarik, rasa tahunya juga macam-macam, dengan harga yang lebih terjangkau, bila dibanding buatan orang Indonesia,” katanya.

Bukan hanya itu, pengusaha tahu dari China juga menyediakan kedelai  Non GMO. Saat ini tren dunia memang pangan berbahan organik. Karena itu Non GMO (Genetically Modified Organism) menjadi salah satu persyaratan terhadap bahan pangan bila masuk ke suatu negara. 

GMO atau dalam bahasa Indonesia disebut Rekayasa Genetika adalah suatu proses manipulasi gen yang bertujuan untuk mendapatkan organisme yang unggul. Nah, kedelai Non-GMO yang disukai itu bahan makan organik. “Tantangan usaha di sini juga orang China,” katanya. (*) 

No More Posts Available.

No more pages to load.