Lalu berkelebat-lah kecemasan itu. Aku tiba-tiba berpikir apakah ijab qabul kami sah jika saya menggunakan nama palsu? Nama Ryan Kunarto di FB-ku? Padahal nama asliku Hardi Irfansyah? Ataukah aku harus berganti nama untuk mempertahankan hubungan ini?
Aku pun memberanikan diri mengatakan kepadanya. “Kamu harus berjanji kepadaku. Jangan marah..!”
Dia mengangguk.
Lalu aku mengambil pasporku dan kuberikan padanya. “Inilah namaku sebenarnya, aku harap kau mau memaafkanku.” Dia awalnya bersemangat, tapi kemudian tercenung saat membaca nama pada paspor itu.
Aku diam.
“Mengapa kau berbohong padaku, selama 7 tahun ini!?”
Aku tetap diam.
“Jadi namamu bukan Hardi!?”
“Bukan…!” Aku diam lagi. Dia mulai menangis.
“Tapi aku tetap orang yang sama kan?.” Aku menghiburnya. Giliran dia diam. Dan menangis. Air matanya menetes.
Ingin rasanya aku mengusap air mata itu, tapi kami bukan muhrim.
Tiba-tiba teleponnya berdering. Ibu dan ayahnya yang protektif memintanya segera pulang. Berulang-ulang mereka minta Chaimae pulang. Dan kami pun harus kembali. Taksi pun meluncur membawa kami ke Berkane.
Selama perjalanan dalam taksi posisi duduk kami berjarak. Aku sengaja menggeser posisi duduk agar Chaimae tahu bahwa aku bukan lelaki jahat yang akan memperkosanya atau memanfaatkannya, seperti mungkin ada dalam pikiran buruknya.
“Kenapa kau menjauh, kemarilah mendekat…” Dia meminta. Tapi aku yang marah tetap menjaga jarak. Selanjutnya dia mengantarku hingga ke depan hotel.
“Saya akan pulang jalan kaki,” kata Chaimae.
“Kenapa? Kemarilah, kita minum kopi dulu.” Aku hampir menarik tangannya, tapi tidak jadi.
“Kenapa kau berubah ketika aku bilang aku kecewa karena kau telah bohong.” Dia bicara lembut.
“Aku tidak mau kau sangka aku ini lelaki jahat. Ayo aku antar pulang,” kataku.
“Tidak,” kata dia,”Aku akan berjalan sendiri sampai rumah, untuk mendinginkan pikiranku.” Lalu dia pun berlalu. Aku menunggu cintaku. Menunggu Chaimae-ku, di tengah konflik yang memanas di perbatasan Maroko-Aljazair.
Saat di hotel, aku membaca koran lokal, hubungan Aljazair dan Maroko tegang selama beberapa dekade terakhir akibat wilayah Sahara. Wilayah tersebut disengketakan antara Maroko dan Front Polisario yang didukung Aljazair.
Pemerintah Aljazair kemudian menutup wilayah udara untuk semua pesawat Maroko pada Rabu (22/9/2021) malam.
Langkah itu diambil akibat ‘provokasi’ yang terus berlanjut dan praktik permusuhan yang dilakukan oleh Maroko. Aku tercenung. Dua negara konflik gegara wilayah. Tapi aku di sini, diputus cinta gegara nama. Ya, hanya gegara nama doang! (Bersambung)












