Mengembangkan Iklim Riset di Indonesia, Dr Miftakhul Huda: Buat TV Pendidikan dan Jangan Intervensi Langsung Para Ilmuwan

oleh
Miftakhul Huda Jepang
Dr Miftakhul Huda bersama istri dan anaknya menikmati indahnya puasa Ramadhan di musim semi dengan bunga-bunga Sakura yang cantik bermekaran.

NAGOYA| DutaIndonesia.com – Riset atau penelitian semakin disukai kaum milenial. Mereka tidak hanya ingin menjadi PNS, politisi, pejabat, artis atau pengusaha saja, tapi juga peneliti. Menjadi ilmuwan. Di kalangan muda Nahdlatul Ulama (NU) juga digalakkan untuk melakukan riset.

Misalnya Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) pernah menggelar pelatihan dan bimbingan riset untuk kader-kader terpilih pada Sabtu hingga Minggu (27-28/5/2023) lalu di Jakarta. Baik terkait problema sosial maupun bidang-bidang lain seperti ekonomi, kesehatan, politik maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua prosesnya kelak perlu ditradisikan berbasis riset.

Salah satu kader NU yang sejak muda suka menjadi peneliti adalah Dr H Miftakhul Huda M.Sc. Dia telah mengantongi gelar doktor terbaik bidang sel matahari di Negeri Sakura melalui beasiswa. Miftakhul Huda yang lahir di Pekalongan, 3 April 1986, bekerja sebagai Designated Assistant Professor di Nagoya University, Jepang.

BACA BERITA TERKAIT:

  1. Selain Ainun Najib, Kader NU Ilmuwan Bertebaran di Luar Negeri: Ada Ahli Mobil Listrik, Nano Teknologi, & Fuel Cell di Jepang
  2. Nahdliyin Milenial Peringati 1 Abad NU: Jangan Hanya Terobsesi Dunia Politik
  3. Puasa Ramadhan di Jepang, Seimbangkan Pikiran, Ruhani, dan Kehendak Biologis
  4. Wapres KH Ma’ruf Amin Dialog dengan Diaspora Negeri Sakura: Jepang Butuh Produk dan Santri Bersertifikat Halal Indonesia
  5. .Laporan Anggita Prameswari dari Jepang: Hadapi Gempa dengan Sinyal Tetangga dan Emergency Bag

Pakar nanoteknologi ini juga pernah menjadi peneliti di Japan Science and Technology Agency (JST), Tokyo Institute of Technology. Mantan Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU di Jepang selama 2 periode 2017-2019 dan 2019-2021 itu sekarang menjabat Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jepang.
Lalu apa kata Miftakhul Huda soal semakin banyaknya kalangan muda menyukai riset ini? Berikut kutipan wawancara Miftakhul Huda dengan DutaIndonesia.com.

Sekarang mulai banyak anak muda menyukai riset. Menurut Anda bagaimana menggalakkan iklim riset di kalangan milenial Indonesia?

Bisa dimulai dari diri sendiri. Dalam menyelesaikan persoalan bangsa bisa dilakukan dengan riset, dengan melibatkan peneliti dan akademisi, dengan menggunakan standar ilmiah penelitian dalam mencari solusinya.

Pemerintah mulai melakukan pengambilan kebijakan berdasarkan riset dan pendapat keilmuan bidang ilmu yang sesuai atau ahlinya. Kebijakan pengungkapan kasus di Polri dengan dasar scintific, misalnya, saya kira sudah bagus, tinggal ditularkan saja ke departemen-departemen yang lain. Dan dilakukan sosialisasi ke masyarakat.

Selanjutnya?

Menciptakan ekosistem riset dan keilmuan yang mandiri, tidak diinterupsi oleh siapa pun. Biarkan komunitas ilmuwan, peneliti mengorganisasi sendiri komunitasnya. Biarkan mereka berkembang dengan didorong berbagai kebijakan agar terjadi kerjasama triple helix, komunitas ilmuwan/universitas/institusi penelitian, industri dan pemerintah. Pemerintah bisa mengawasi secara tidak langsung dan memberi arah perkembangannya dengan kebijakan anggaran penelitian.

Dengan kebijakan anggaran komunitas ilmuwan pasti akan mengikuti arahan pemerintah tanpa mematikan kemandirian dan kebebasan meneliti untuk kemajuan IPTEK. Pemerintah gak usah takut, gak ada yang perlu ditakutkan.

Bagaimana dengan BRIN?

Soal BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) saya kira jawabannya sama. Harus menciptakan ekosistem riset dan keilmuan yang mandiri, tidak diinterupsi oleh siapa pun.

Dengan kebijakan anggaran komunitas ilmuwan pasti akan mengikuti arahan pemerintah tanpa mematikan kemandirian dan kebebasan meneliti untuk kemajuan IPTEK. Pemerintah gak usah takut, gak ada yang perlu ditakutkan.

Apa di Jepang, politik juga mengintervensi para peneliti?

Ekosistem riset dan keilmuan di sini mandiri dengan organisasi peneliti dan keilmuan masing-masing. Pemerintah mengorganisasinya secara tidak langsung dengan kebijakan anggaran riset maupun pendidikan tinggi, dan juga regulasi standar hasil riset. Tidak ada intervensi langsung atau regulasi top down dari pemerintah ke komunitas riset/ilmuwan.

Bagaimana dengan peran industri?

Dorong juga industri/BUMN memajukan penelitian di kampus-kampus.

Scientific-based-policy harus dimulai dari tingkat pemerintah kota, provinsi, departemen, hingga pusat. Pemerintah pusat bisa membuatkan aturan main dan rambu-rambunya. Tentu tidak perlu semuanya harus based scientifik tapi yang memang memerlukan atau sudah sewajarnya hurus berdasarkan science ya science harus diterapkan.

Belajar dari Jepang, apa dalam waktu dekat yang perlu dilakukan?

Buat TV pendidikan kayak TPI dulu atau NHK di Jepang.

Kenalkan anak-anak dengan science sejak awal melalui kunjungan ke museum-museum, membuat prakarya science, mengenalkan pendidikan programming, robotik, menjadi wartawan/penulis, sejak dini tanpa memberatkan mereka.
Wajibkan anak SD sejak kelas satu untuk meminjam satu buku tiap minggu dan menceritakannya di depan kelas. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.