Mendidik anak di Amerika Serikat (AS) gampang-gampang susah. Apalagi bagi diaspora Indonesia. Mudah karena fasilitas pendidikan di negeri Paman Sam cukup lengkap. Bahkan canggih. Susah karena butuh kecanggihan juga dari orang tua sebagai pendidik utamanya. Berikut kisah salah seorang diaspora Indonesia, Hany Desiyanti, dalam mendidik anaknya agar bisa berkompetisi sekaligus meraih prestasi di negeri orang.
Oleh Gatot Susanto
HANY DESIYANTI berusaha telaten mendidik putrinya, Darlene, yang lahir dan dia besarkan di Amerika. Saat itu Hany bersama suaminya yang juga orang Indonesia mencoba
peruntungan hidup di Amerika. Hal itu dilakukan setelah Hany dan suaminya kala itu ingin melanjutkan pendidikan. Hany sempat menjalani pertukaran pelajar ke Beloit College, Beloit-WI tahun 1996.
Namun kemudian pasangan suami istri ini bercerai pada tahun 2015. Ayah Darlene memilih kembali ke Indonesia. Sementara Hany bersama putrinya mencoba bertahan. Selama 4 tahun Hany membesarkan Darlene sebagai single parent di Kota Philadelphia, Pennsylvania.
“Saya kemudian menikah kembali tahun 2019 dengan orang Mexico. Namanya Ricardo Rodriguez Guarneros. Dan sempet menjadi single parent selama 4 tahun,” kata Hany Desiyanti kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (29/6/2022).
Suka duka dijalaninya saat membesarkan Darlene. Dan Hany pun bersyukur akhirnya bisa mendidik putrinya dengan baik hingga sekarang putrinya itu lulus SMA di sekolah favorit. Julia R. Masterman Highschool tempat sekolah Darlene merupakan SMA terbaik se Negara Bagian Pennsylvania dan ranking 10 terbaik se-Amerika.
“Darlene juga baru saja menerima penghargaan sebagai salah satu National Honor Society. Penghargaan itu diberikan kepada murid yang nilainya tidak pernah kurang dari 93 persen di seluruh mata pelajaran. Dia juga menjadi finalist National Merit Scholarship. Merit ini hanya diberikan kepada sekitar 7.500 student di seluruh Amerika atau 1% top student,” kata Hany.
Bukan hanya itu, baru-baru ini Darlene dipilih pula untuk melakukan simulasi pemilu. Dia mewakili kandidat Republikan, David McCormick, yang melawan rivalnya, dr Oz, dari Partai Demokrat. Darlene melakukan serangkaian kampanye layaknya jurkam. Simulasi ini hanya mencakup lingkup sekolah saja.
Melihat bakat putrinya, Hany melihat, Darlene menonjol di bidang pemerintahan (government). “Dia pernah menjabat sebagai presiden di sekolahnya. Kegiatan sehari-harinya sewaktu masih SMA sering menjadi volunteer di kegiatan sosial, tapi juga aktif ikut sekolah ballet yang latihannya wajib 6 kali seminggu. Lalu, work study di tempat balletnya (kerja 2 jam sebelum kelas dimulai). Nama sanggar balletnya The Philadelphia Dance Academy (PDA),” katanya.
Darlene sudah ikut kelas ballet sejak berusia 3 tahun. Sebelum masuk PDA saat usia 7 tahun, Darlene ikut sanggar ‘The Rock School’. Selain ballet, di PDA ada dance lainnya, seperti tap dance, theater dan contemporary dance. Darlene juga kadang memberikan tutoring di waktu senggangnya.
“Di sanggar pelatihan ballet, diwajibkan anak seusia dia untuk latihan 6 hari. Ya ada tingkatan levelnya. Biayanya lumayan mahal juga tergantung level. Semakin tinggi levelnya, diwajibkan untuk mengikuti waktu yang lebih panjang untuk berlatih. Untuk prestasi nonformalnya, ketika kecil, usia 6-11 tahun, Darlene pernah memenangkan kompetisi model dan acting tingkat international (IMTA). Ada beberapa kategori, salah satunya juara 2 monologue,” ujarnya.
Darlene juga pernah beberapa kali menjadi bintang iklan dan main film sebagai figuran. Bahkan, pernah main bersama aktris Hollywood Julianne Moore. Darlene juga pernah main theatre di Broadway New York dan di Walnut Theater Philadelphia.
“Banyak judul pementasan ini, salah satunya King and I. Untuk persiapan kompetisi biasanya dia latihan rutin, baik formal dan nonformal. Jadi ketika ada kompetisi dia tidak terlalu ngoyo. Anaknya fokus tapi santai. Jarang terlihat belajar juga,” katanya.
Setelah lulus SMA, Darlene mendaftar ke beberapa perguruan tinggi dengan jurusan yang sama: Neuroscience. Mungkin cita-citanya menjadi dokter. Tapi di sini semua masih bisa berubah. Bisa ambil minor juga. Akhirnya Darlene diterima di Upenn (University of Pennsylvania) jurusan Neuroscience.
“Upenn adalah salah satu Ivy League, 8 perguruan tinggi bergengsi di Amerika, selain Harvard, Yale, Duke, Brown, Columbia, Darmouth, Princeton. Dan alhamdulillah dia mendapatkan full ride. Artinya dia tidak perlu membayar, di mana beasiswa full ride-nya itu termasuk dorm, makanan, uang buku dan pengeluaran personal, total per tahunnya mencapai $85 ribu,” katanya.
Kunci Hany dalam mendidik anak-anaknya adalah dengan mencoba selalu dekat dengan anak-anak dan mensupport semaksimal mungkin apa yang menjadi cita-citanya. Misalnya dia sebisa mungkin melakukan antar jemput ke sekolah, membantu memberikan pilihan dalam hal-hal penting untuk
hidupnya, dan lain-lain.
Termasuk pula memberikan pengertian hidup sebagai minoritas. Dan yang pasti mengajarkan untuk selalu ingat kepada Allah SWT. “Budaya Indonesia tidak ditinggalkan tapi disesuaikan dengan kondisi di Amerika sini,” katanya.
Hany juga tidak pernah memaksakan kehendak terhadap anak-anak. Dia lebih mengarahkan. Waktu Darlene masih kecil, seperti anak-anak pada umumnya belum tahu mau ke mana arahnya, saat itu tugas orang tua memberi pengarahan.
“Saya masukkan banyak kegiatan. Mulai acting, piano, theater, dance, belajar ngaji, renang, dan lain-lain. Setelah besar akan lebih terlihat anak ini maunya kemana, dan saya dukung sepenuhnya apa yang mereka inginkan. Saya hanya membantu mencarikan informasi sekolah-sekolah atau kegiatan-kegiatan
yang mendukung untuk mencapai cita-citanya,” katanya.
Bagaimana dengan pacaran? Bukankah budaya pacaran di Amerika cukup berbahaya mengingat kebebasan hidup mereka di sana? Hany mengakui Darlene baru saja dekat dengan teman SMA-nya.
“Kebetulan pacarnya murid terbaik di sekolahnya (valedictorian). Mereka saling memotivasi dan masuk ke perguruan tinggi yang sama. Saya tidak terlalu melarang tapi tetap menjaga norma-norma ketimuran dalam berpacaran. Mungkin pacaran bisa memotivasi tergantung dari anak dan pacarnya. Kebetulan Darlene dan pacarnya sama-sama siswa berprestasi. Jadi mereka saling mendukung dan berkompetisi in positive way,” katanya. (*)













