Pengalaman Menyentuh Hidup di Kota Nijmegen Belanda: Menemukan Ajaran Rasul di Antara Bekas Peradaban Romawi

oleh

Suka Berpetualang

Sikap mengikuti “ala kulli haal” bagi Zaimatus itu membuat dirinya suka merantau dan selalu enjoy di setiap kota yang ditinggalinya. Dia berasal dari Lumajang, Jawa Timur. Sejak lulus sekolah dasar (SD) di kota yang sama,  dia sudah berpetualang dari satu kota ke kota lain untuk menuntut ilmu. 

“Saya menjadi santri di Pesantren Al-Mawaddah, Coper, Ponorogo, selama tiga tahun, lalu pindah ke MAPK Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Sempat kuliah satu semester di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum sebelum kemudian melanjutkan S1 di Al-Azhar Cairo dan lulus tahun 2001. Sepulang dari Mesir sempat mengabdi di Lembaga Bahasa Arab Al-Imarat di Bandung,” katanya. 

Setelah menikah dia pindah ke Yogyakarta dan melanjutkan menempuh S2 di UGM bidang Kajian Timur Tengah dengan konsentrasi Bahasa dan Sastra Arab. Tahun 2007, Zaimatus ikut suami yang sedang menempuh pendidikan S2 di Australia selama 1,5 tahun. Sepulang dari negeri Kanguru sempat tinggal di Yogyakarta satu tahun sebelum kemudian hijrah dan menetap di Semarang. 

“Secara kebetulan suami saya dosen UIN Semarang sejak 2005. Sejak 2011 saya mengabdi di Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus. Alhamdulillah, tahun 2019 kami berdua mendapatkan beasiswa program 5.000 doktor dari Kementerian Agama RI (MoRA) dan berangkat ke Belanda, tepatnya di Radboud Universiteit, Nijmegen, kota kecil yang berbatasan dengan Kranenburg, Jerman,” katanya. 

Saat mendapatkan beasiswa MoRA keduanya diberi waktu kurang lebih satu tahun untuk menentukan kampus tujuan. Masalahnya, mendaftar program doktoral di luar negeri berarti juga harus melamar supervisor atau pembimbing. Jika pembimbing sudah setuju, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah memenuhi persyaratan administratif yang telah ditetapkan. 

Oleh karena itu, masa satu tahun itu ibarat masa mencari “jodoh”, melamar ke beberapa profesor yang sekiranya sesuai dengan proposal penelitian yang sudah dipersiapkan.

“Nah dari sekian banyak proposal yang sudah kami kirimkan, rupanya kami berjodoh dengan Belanda,” ujarnya. 

Dan alhamdulillah, Maret 2019  Zaimatus dan suami bisa memulai masa studi mereka di negeri kincir angin. Dia bersama suami, Ahmad Afnan Anshori, dan tiga anaknya, Kautsar Luqyana Azri, Kavin Dildar Ahmada, dan Zidny Ezzat Ahmada, kini pun bisa merasakan hidup di negeri yang dulu pernah menjajah tanah airnya: Belanda. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.