Mobil Listrik & Fuel Cell
Semua harapan Jokowi itu segera terwujud bila para ahli dari NU di luar negeri kembali ke Indonesia untuk memajukan NU. Misalnya mantan Ketua PCI NU Jepang, Dr H Miftakhul Huda, M.Sc, ahli nanoteknologi yang juga Asistant Professor di Nagoya University, Jepang. Saat ditanya Global News soal ini, Miftakhul Huda bersikap merendah.
“Saya bukan siapa-siapa. Tapi, kader NU di Jepang sendiri yang ahli dalam keilmuan cukup banyak. Dan sebagian sudah pulang ke Tanah Air, hanya belum didata lagi. Di Jepang sendiri, antara lain Profesor Azis dan Profesor Dahlan,” kata Miftakul Huda kepada DutaIndonesia.com dan Global News Rabu (2/2/2022).
Yang dimaksud adalah Prof. Aziz Muhammad dan Prof. Dahlan Nariman. Kedua ilmuwan ini dikenal sebagai tokoh senior NU yang menjabat Mustasyar di PCI NU Jepang. Prof Aziz Muhammad merupakan profesor dari Tokyo Institute of Technology, Jepang.
Profesor Azis menjabat asistant professor di usia 35 tahun. Fokusnya sekarang pengembangan energi bersih. Dulu dia sempat mengambil studi tentang mesin, tapi sekarang karena eranya energi listrik, dia pun ikut terlibat dalam program tersebut. Selain mengajar di kampus di negeri Sakura, dia juga menjadi tim peneliti.
Saat berkunjung di Universitas Negeri Malang (UM) beberapa tahun lalu, Profesor Azis mengatakan, bahwa dia menjadi pengajar dan peneliti di Tokyo Institute of Technology. Aziz diberi kesempatan mengembangkan pemanfaatan teknologi masa depan yakni mobil listrik.
“Kami mengembangkan pemanfaatan mobil listrik masa depan bekerja sama dengan Mitsubishi Corporation di beberapa negara Eropa dan di Jepang sendiri,” jelas Aziz saat itu.
Pemanfaatan mobil listrik itu, kata Aziz, ialah V2G atau vehicle to grade. Pemanfaatan mobil jenis ini nantinya di masa depan akan dapat digunakan untuk menyerap energi listrik. “Itu nanti menjadi pilot project di tahun 2025-2030. Negara yang sudah mulai kembangkan pemanfaatan mobil listrik adalah Denmark dan Belanda,” katanya.
Sedang Prof. Dahlan merupakan Associate Professor, Education Development and Learning Support Center (EDLSC) pada Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) Jepang.
Sementara Dr Miftakhul Huda dikenal sebagai ahli nanoteknologi. Sebuah ilmu yang mempelajari partikel paling kecil, termasuk atom.
Dr Miftakhul Huda yang juga Asisten Profesor di Universitas Nagoya, Jepang, meneliti mengenai fuel cell, sebuah alat elektrokimia sebagai tenaga mesin kendaraan. Ia menjelaskan bahwa biasanya mobil menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar, tapi dengan teknologi fuel cell tidak lagi menggunakan itu, melainkan hanya menggunakan hidrogen tanpa karbon. Hal tersebut tidak menghasilkan pemanasan global.
Teknologi tersebut, jelas Huda, sedang digalakkan di Jepang. Tak ayal, projek penelitiannya sedang gencar dilakukan agar teknologinya segera diterapkan. Sebab, program ke depannya adalah pembangunan jaringan pengisian bahan bakar hidrogen di semua wilayah Jepang.
Saat ini, mobil dengan teknologi fuel cell masih cukup mahal, setara dua kali harga mobil berbahan bakar bensin. Sebab, salah satu teknologinya memang masih mahal. Penelitiannya di bidang itu guna meningkatkan performa teknologinya, tetapi dengan harga yang lebih murah.
Tiga kader NU ilmuwan di luar negeri itu sekadar contoh. Jumlah kader lain masih banyak lagi. Para ahli keilmuan dari kader NU sekarang sudah terdata dengan adanya Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di Luar Negeri. Bahkan, sebagian dari mereka sudah pulang ke Indonesia untuk mengabdikan diri pada ibu pertiwi.
“Untuk Mas Ainun, semoga diberikan yang terbaik untuk berkontribusi bagi Indonesia khususnya NU. Tapi kita harus pikirkan bersama agar ini berjalan secara alami dan bermanfaat untuk semuanya,” kata Miftakhul Huda. (*)














