Suka Duka Memimpin PCI Muslimat NU Hongkong (Bagian 1): Dicurigai hingga Hendak Dikudeta

oleh

Rukyah dan Bekam

Soal program, kata dia, selain rutin setiap Minggu seperti pengajian, membaca Yasin, Tahlil, salawatan, dan sebagainya, ada pula pengobatan bekam dan rukyah. Ada dua tenaga bekam. Namanya Rini asal Nganjuk dan Mbak Darni dari Kediri. Ilmu bekam mereka dapat dari turun menurun sejak di Indonesia.

Sedang untuk rukyah, perukyahnya PMI asal Malang tapi tinggal di Kediri. Saat merukyah pasien, dia seperti dukun Ningsih Tinampi di Pandaan Pasuruan itu. Dia mengobati orang kerasukan makhluk halus.

Fatimah menyebutnya seperti Ningsih Tinampi dari Hongkong. Namun sebenarnya bukan dukun. Bila melihat saat mengobati pasien, Fatimah kadang percaya kadang tidak, sebab pasien yang dirukyah memang bersikap aneh, seperti tertawa sendiri, lalu berlaku seperti anjing, melihat kaki langsung nyaplok, sehingga dia pun percaya bila ada proses rukyah saat menangani orang yang konon katanya kemasukan leak. Si pasien kadang menangis dan menjerit histeris.

“Pokoknya dia dikirimi guna-guna dari Indonesia. Saya tidak ngerti, dia ceritanya begitu. Diberi jimat tapi berbalik. Pokoknya mistis di sini juga banyak. Ya, banyak juga yang sembuh. Dan antre juga yang dirukyah. Bahkan misalnya jadwalnya minggu ini penuh, harus minggu depan. Karena itu mirip Ningsih Tinampi. Dia maunya setiap minggu tiga sampai empat orang saja. Yang lain harus dijadwal, kecuali yang parah harus segera ditangani, bisa diselipkan. Itu katanya dia.”

“Saya ngikutin saja, sebab mereka tidak mematok harga, seikhlasnya saja. Antar teman. Biasanya uangnya juga buat beli makan rame-rame. Saya jadi tukang masaknya untuk makan rame-rame ini. Jadi jabatan saya rangkap sebagai tukang masak juga. Tapi memang hanya saya yang tidak punya majikan. Mereka tidak boleh majikannya menggunakan dapur dan alat masaknya untuk keperluan lain. Apalagi masak masakan Indonesia yang baunya menyengat, seperti kare, yang pedas, ada terasi dan lain-lain. Mereka bilang, umi yang gak punya majikan masak buat anak-anak ya. Kalau hari Minggu setelah Subuh saya langsung masak, setelah itu anak-anak jemput lalu dimakan bersama dan dibersihkan setelahnya,” katanya.

Rukyah atau bekam, kata dia, harus dilakukan di Kantor Muslimat. Kalau praktik di pinggir jalan seperti dilakukan banyak pihak lain untuk tujuan komersial tidak manusiawi. Hilang harga diri pasien. Sebab, saat dibekam pasien perempuan membuka sebagian baju di pinggir jalan sementara banyak orang lalu lalang.

“Di sini banyak praktik semacam itu di pinggir jalan. Misalnya praktik dikerok, dipijat, bajunya sebagian dibuka, banyak orang lalu lalang lewat. Ibu Khofifah kalau lihat itu ikut prihatin, sehingga anak-anak kalau praktik harus di dalam ruangan Kantor Muslimat,” kata Fatimah.

Banyak orang praktik pengobatan di pinggir jalan. Mereka diajari seseorang yang mengaku ahli pengobatan semacam itu dengan iming-iming manjur. Namun karena sikapnya aneh dan di luar nalar, sebab janjinya berlebihan, Fatimah pun mengingatkan anggotanya agar berhati-hati bila mendapat tawaran semacam itu.

“Orang itu bilang, kalau lulus dari sini kamu pulang ke Indonesia bisa seperti dokter. Dan mereka di lapangan memang berpakaian seperti dokter. Pakai baju putih, pakai alat untuk memeriksa kesehatan pasien, segala macam. Padahal kuliah dokter itu lima tahun ditambah 1,5 tahun praktik baru boleh disebut dokter, lha ini belajarnya seminggu sekali hanya beberapa jam, tak sampai satu tahun, sudah mengaku sama dengan dokter. Mohon maaf, teman-eman saya bilang agar hati-hati dengan iming-iming seperti itu,” katanya.

No More Posts Available.

No more pages to load.