
12 Juta Diaspora
Presiden IDBC, Fify Manan, mengakui pertumbuhan ekonomi yang kuat di Indonesia sebagai kekuatan masa depan Asia Tenggara.
“Ada 12 juta diaspora di seluruh dunia dan IDBC TradeLink dapat menjadi model platform yang dapat mendorong produktivitas melalui pengembangan jejaring yang terintegrasi di semua bidang. Ini bisa menjadi peluang yang signifikan bagi bisnis dan pemangku kepentingan di berbagai sektor di mana kami memiliki kemampuan yang kuat,” katanya.
Ira Damayanti selaku Chairwoman ID SEED menambahkan ID SEED hadir untuk dapat berbagi wawasan pengetahuan pasar internasional, melakukan pembinaan serta pendampingan dan menjadi hub bagi pelaku UKM-IKM Indonesia supaya dapat berdaya saing global pada kancah perdagangan internasional.
“Kontribusi UKM-IKM ekspor Indonesia masih rendah bahkan di tingkat ASEAN, melalui kolaborasi ID SEED dan IDBC ini besar harapan kami dapat ikut berkontribusi dalam meningkatkan literasi, wawasan dan jejaring UKM-IKM Indonesia menuju go internasional”, tambahnya.
Dalam MoU tersebut, baik IDBC dan ID-SEED sepakat untuk kerjasama dalam bidang antara lain penyelenggaraan seminar dengan topik yang relevan sesuai dengan tujuan kerjasama untuk meningkatkan pengetahuan bisnis diaspora Indonesia dan UKM Indonesia dalam membangun koneksi internasional.
Selain itu acara virtual termasuk Bisnis dan Diaspora-Talk tentang membangun kepercayaan, penyebaran informasi seperti publikasi, buletin, media sosial akan saling berhubungan dan berkelanjutan setidaknya hingga satu tahun ke depan.
Selanjutnya dalam rangka membantu pengembangan bisnis khususnya bagi pelaku UKM-IKM yang sempat terpuruk akibat Covid-19, team IDBC Astrid Vasile (Diaspora Australia Barat) dan Diski Naim (Diaspora Melbourne – Victoria) mengembangkan platform yang disebut “IDBC- TradeLink”.
Hal ini supaya para pelaku usaha dapat menampilkan karya dan produknya pada platform tersebut dengan tujuan mensinegikan keahlian dan kekuatan Diaspora Indonesia dalam memajukan hubungan antar-warga dalam kewirausahaan skala internasional, terutama di bidang teknologi, inovasi dan perdagangan global.
Ahanung Sandra (VP ID SEED Diaspora Jerman) juga mengungkapkan pentingnya wawasan kewirausahaan internasional supaya pelaku UKM-IKM kita paham pentingnya daya saing.
Produk-produk Indonesia, kata dia, sebenarnya bagus-bagus dan banyak diminati pasar, namun hambatannya adalah kualitas dan kapasitas yang kurang konsisten, harga yang masih kurang kompetitif. Hal ini mungkin mereka kurang memahami bagaimana berbisnis di kancah internasional.
“Dengan adanya kerjasama ID SEED dan IDBC ini semoga pelaku UKM-IKM dapat menambah wawasan pasar, inovasi teknologi serta pemahaman bagaimana usaha kita dapat bersaing di bisnis internasional,” ujarnya.
Satu lagi, kata Ahanung Sandra, masalah yang kita hadapi saat ini adalah biaya container yang sangat-sangat melambung tinggi, sehingga para pengusaha sangatlah berat untuk memikul biaya tersebut.
“Hal itu baik yang mau export ataupun para buyer yang mau import. Ini adalah PR untuk kita semua sebagai ID SEED dan IDBC bagaimana cara mensiasati & mengatasi masalah bersama ini,” katanya. (gas)













