Setelah para mahasiswi itu membentuk Fatayat NU Malaysia, beberapa hari kemudian mereka menemui Mimin Mintarsih. Mereka memintanya untuk bergabung di kepengurusan, serta ikut mengembangkan dan mengaktifkannya. “Kalau Muslimat NU didirikan di rumah saya dan saya sendiri perintisnya,” katanya.
Setelah Muslimat dibentuk, hal pertama yang dilakukan Mimin adalah menemui ibu-ibu Nahdliyin asal Indonesia yang ada di Malaysia untuk meyakinkan bahwa kehadiran Muslimat NU tidak hanya untuk tahlil dan Yasinan saja, tapi juga mampu memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan seperti bantuan anak-anak yatim, ibu tunggal (janda), sunatan massal gratis, dan juga mengadakan beberapa peringatan hari-hari besar Islam. Apalagi saat pandemi Covid-19 sekarang, peran Muslimat NU sangat dibutuhkan masyarakat.
“Alhamdulillah untuk Muslimat saya sangat mudah untuk mencari anggota atau membentuk ranting karena rata-rata di Malaysia, baik WNI maupun TKW, berumur lebih dari 40 tahun dan memang mereka sudah aktif di daerah mereka masing-masing. Bahkan masih merindukan program-program NU dan pengurus Muslimat rata rata sudah berdomisili di Malaysia antara 20 tahun sampai 35 tahun,” katanya.
Menurut Mimin Mintarsih, saat ini Muslimat NU Malaysia memiliki 7 ranting yakni Ranting MNU Kg Changkt Gombak, Ranting MNU Chowkit, Ranting MNU Sg Chinchin, Ranting MNU Cheras, Ranting MNU Ampang Campuran, Ranting MNU Puchung, Ranting MNU Pantai Dalam. (*)














