Sebagai anak tunggal yang sangat dekat dengan kedua orang tua saya, ini pertama kalinya saya hidup terpisah dari orang tua dan jauh dari siapa-siapa. Saya selalu berkata pada diri saya sendiri bahwa saya kuat dan saya bisa hidup dengan kondisi seperti ini. Saya justru memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar mandiri, bagaimana mengatur pengeluaran, mengatur makan, apa yang harus dilakukan jika sakit, dan intinya bagaimana bisa survive hidup sendiri tanpa orang tua.
Selain itu, sisi positif kos di daerah Kelapa Gading adalah bahwa saya dapat mengenal daerah Jakarta Utara yang selama ini belum pernah saya jelajahi.
Masuk kerja hari pertama, rasanya cukup nerve wrecking, takut berbuat salah, takut tidak bisa bekerja sesuai harapan. Tapi perasaan itu cepat hilang ketika berkenalan dengan rekan-rekan kerja yang sudah cukup lama bekerja di sana, seperti Merry, Riama, Angel, Eva, dan Mia yang semuanya sangat ramah dan helpful – tidak ada budaya “senior-junior” dan semua bekerja secara kompak dan saling mendukung. Saya menjadi satu-satunya tutor laki-laki di center itu. Merry menjadi mentor saya yang mengajari saya semua hal mengenai seluk beluk pekerjaan sebagai tutor Bahasa Inggris di WSI.
Baru satu minggu bekerja, saya diberikan excellence training selama 5 hari di WSI Ratu Plaza bersama para pegawai baru yang lain, termasuk dari WSI PIM dan Ratu Plaza. Selain mendapatkan pelatihan pengajaran Bahasa Inggris, kami diberikan training mengenai pemberian servis terbaik bagi para students. Tidak hanya ilmu dan keterampilan yang didapat, namun juga banyak teman baru.
Suasana kerja di WSI sangat menyenangkan, banyak kesempatan untuk berkenalan dengan orang-orang baru, students dari berbagai latar belakang dan usia, mengajarkan Bahasa Inggris kepada orang-orang dari level yang berbeda-beda yang mengharuskan saya untuk beradaptasi dan menyesuaikan gaya mengajar saya. Ada yang benar-benar mulai dari nol, banyak pula yang sudah advanced yang justru semakin mengasah kemampuan Bahasa Inggris saya.
Tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kemlu 2010
Bagaimana dengan cita-cita untuk menjadi diplomat? Apakah masih tetap ada? Tidak. Di titik ini saya tidak lagi memiliki ambisi untuk menjadi diplomat dan sudah nyaman dengan pekerjaan saya sebagai tutor Bahasa Inggris. Namun kali ini justru Pita, calon istri saya, yang memiliki keinginan besar agar saya dapat menjadi diplomat. Menuruti kemauan Pita, saya sempat mendaftar CPNS Kemlu 2010 di bulan September 2010. Saya mendaftar sebagai calon Pejabat Diplomatik dan Konsuler (PDK). Kemlu juga membuka pendaftaran bagi para calon Penata Keuangan dan Kerumahtanggaan Perwakilan (PKKRT) dari latar belakang ekonomi/akuntansi, serta Petugas Komunikasi (PK) bagi yang memiliki latar belakang ilmu komputer/IT.
Tanpa niat dan kepercayaan diri tentu tidak akan membuahkan hasil. Benar saja, saya langsung gagal di tes CPNS Kemlu tahap awal yang diikuti oleh lebih dari 10 ribu orang di arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran.











