Bekerja sebagai Local Staff
Bekerja sebagai LS di KBRI Yangon cukup banyak suka dukanya. Sebelum saya bisa membeli mobil, saya berangkat dari flat menuju KBRI menggunakan taksi dengan tarif sekali jalan 1.500 Kyat (bacanya chat) atau sekitar Rp 20 ribu. Tidak ada argo, jadi kita harus pandai menawar. Namun untuk sehari-hari ke kantor sudah ada taksi langganan yang standby di depan flat. Jika lagi niat ngirit, jalan kaki ke kantor memakan waktu 20 menit.
Dresscode sebagai LS di KBRI Yangon seperti apa? Pada hari Senin hingga Rabu, para LS mengenakan kemeja lengan panjang berdasi, dan pada hari Kamis dan Jumat mengenakan batik lengan panjang. Namun jika ada upacara, semua mengenakan Pakaian Sipil Lengkap (PSL), yaitu kemeja putih berdasi dengan jas warna gelap. Beberapa kali LS dibagikan batik seragam oleh KBRI dan saat ada event seperti kegiatan menyambut 17-an atau Hari Ulang Tahun TNI, semua dibagikan pakaian olahraga. Jadi selama saya menjadi LS di Myanmar, saya jarang sekali membeli pakaian karena sering mendapat pembagian dari kantor.
Pekerjaan rutin saya sebagai LS Fungsi Politik adalah mengumpulkan berita dari berbagai sumber dan menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia untuk kemudian dilaporkan ke Pusat (Kemlu, Jakarta).
Saya bekerja bersama dengan Ma Thandar, LS Warga Negara Myanmar. Ma adalah panggilan seperti Mbak atau Nona dalam Bahasa Myanmar.
Ma Thandar orangnya sangat ramah dan sangat helpful sehingga bekerja bersama Ma Thandar sangat nyaman. Ma Thandar sudah cukup lama bekerja di KBRI dan sangat menguasai pekerjaannya.
Ma Thandar biasanya mengumpulkan berita dari media berbahasa Myanmar dan menerjemahkannya ke Bahasa Inggris dan saya kemudian terjemahkan kembali ke Bahasa Indonesia. Ma Thandar juga mempunyai tugas untuk mengatur pertemuan diplomat atau HS yang menjadi atasan kami, yaitu Pak Totok, dengan counterpart di Myanmar, termasuk Kemlu Myanmar.
Dalam bekerja, walaupun lulusan S1 dari perguruan tinggi ternama, sebagai LS kita harus menurunkan ekspektasi. Pekerjaan sebagai LS tidaklah glamor. Kita harus ikhlas jika seringkali diminta melakukan pekerjaan yang menurut kita “ecek-ecek” seperti sekedar fotokopi, mengantarkan dokumen, dan kliping koran.
Sebenarnya bekerja di Fungsi Politik sangat monoton karena sehari-hari tugas utamanya hanya mencari dan menerjemahkan berita di belakang layar komputer. Saya sangat beruntung karena Bapak Duta Besar (Dubes) – yang saat itu dijabat oleh Bapak Sebastianus Sumarsono melihat kemampuan fotografi saya, sehingga tugas saya tidak hanya berada di balik layar komputer, namun sebagai fotografer KBRI yang seringkali diminta untuk mengabadikan momen-momen penting berbagai kegiatan KBRI. Rupanya tidak sia-sia saya mengikuti kursus fotografi.











