Kisah Perjalanan Diplomat Muda Indonesia (Bagian 4): Seleksi CPNS Kemlu 2013

oleh
arya daru
Arya Daru Pangayunan, Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires.

Dari Jogja, saya terbang kembali ke Yangon dan kembali bekerja sambil menunggu pengumuman hasil TKD. Jarak waktu antara pelaksanaan TKD, pengumuman hasil TKD, dan Tes Kompetensi Bidang (TKB) – yang merupakan tes tahap kedua cukup lama, sehingga sambil menunggu hasil tes, saya bekerja seperti biasa. Ketika pengumuman hasil TKD keluar dan dinyatakan lulus, saya meminta ijin kepada Bapak Dubes untuk dapat kembali ke Jakarta guna mengikuti tahapan tes selanjutnya.

Ketika saya menjelaskan kepada Bapak Dubes bahwa jarak antar tahapan tes berikutnya cukup dekat, saya cukup kaget dan sangat bersyukur ketika Bapak Dubes memberikan saya ijin penuh untuk tinggal di Indonesia hingga seluruh rangkaian tes selesai.

Sayapun kembali ke Jakarta. Selama rangkaian tes ini, saya tidak sendiri. Saya bersama Tanto, sahabat saya selama kuliah yang juga mengikuti tes CPNS Kemlu dan sudah sama-sama lolos TKD. Karena Tanto merantau dari Solo, atas kebaikan Bude Sri, kami berdua tinggal di rumah Bude Sri selama tes berlangsung.

Tes Kompetensi Bidang

Dalam mempersiapkan TKB, strategi saya tetap sama, yaitu belajar dengan browsing soal-soal di internet melalui smartphone saya. Selain itu, saya cukup percaya diri dengan ilmu yang saya dapatkan selama bekerja di KBRI Yangon sebagai LS Fungsi Politik, terlebih setelah memperoleh banyak “bekal” dari Pak Sigit. Tidak lupa juga saya mempelajari berita-berita di media ternama seperti Kompas dan the Jakarta Post, serta yang paling penting adalah berita-berita yang dimuat di Portal Kemlu, di kemlu.go.id.

TKB diadakan di arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran. Dari 5.186 peserta jalur Pejabat Diplomatik dan Konsuler (PDK) yang mengikuti TKD, telah tersaring menjadi sekitar 1.450 peserta yang lolos untuk mengikuti TKB. Suasana di Kemayoran juga tidak terlalu ramai dibandingkan dengan yang saya alami ketika mengikuti tes di Kemayoran pada tahun 2010 yang mencapai lebih dari 10 ribu orang.

Selain harus siap dari segi substansi, kita juga harus siap secara fisik karena tidak disediakan meja untuk mengerjakan soal-soal, hanya disediakan kursi sehingga kita harus membawa alas papan sendiri untuk mengerjakan soal-soal TKB. Sulit mendapatkan posisi yang enak untuk mengerjakan soal dan punggung bisa jadi sangat lelah. Soal-soal TKB berupa pilihan ganda dan esai, ada yang menggunakan Bahasa Indonesia dan ada yang menggunakan Bahasa Inggris. Terus terang saya tidak punya bayangan apakah bisa lolos atau tidak di tahap ini. Saya merasa bisa mengerjakan soal-soalnya, tapi bagaimana jika pesaing saya banyak yang “lebih” bisa? Tapi saya berusaha untuk tetap positif.

Karena diijinkan untuk tetap tinggal di Indonesia selama rangkaian tes, saya pulang ke kampung halaman saya di Jogja sambil menunggu pengumuman selanjutnya dan mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan seperti SKCK , kartu pencari kerja, surat keterangan sehat, dan surat keterangan bebas narkoba. Cukup senang juga dapat kembali berkumpul dengan anak istri.

Selang beberapa hari, betapa bahagianya ketika mengetahui bahwa saya lulus TKB. Bagi saya tahap TKB merupakan salah satu tahap yang paling vital karena cukup banyak orang yang gugur di tahapan ini.

Tes Kemampuan Bahasa Asing

Saya kembali ke Jakarta untuk mengikuti tahapan tes selanjutnya, yaitu Tes Kemampuan Bahasa Asing. Karena saya memilih Bahasa Inggris, saya harus mengikuti tes TOEFL yang diadakan di LIA Pramuka. Bagi yang memiliki kemampuan bahasa asing lainnya, tidak harus mengikuti tes TOEFL ini, namun dengan mengikuti tes kemampuan bahasa asing yang lain seperti Arab, Perancis, Spanyol, atau Mandarin.

Saya sebenarnya agak meremehkan tes Bahasa Inggris ini karena sebelumnya saya pernah melakukan tes TOEFL dan mendapatkan hasil di atas 600, tapi begitu mengerjakan tes TOEFL kali ini, saya sempat panik karena ternyata soal-soalnya cukup sulit. Namun beberapa hari kemudian saya lega karena diumumkan bahwa saya lolos dan berhak untuk mengikuti rangkaian tes final. Saya cukup mendapatkan pelajaran untuk tidak lagi meremehkan sebuah tes TOEFL.

No More Posts Available.

No more pages to load.