Rangkaian Tes Final
Rangkaian tes final terdiri dari tes psikologi tertulis, wawancara psikologi, wawancara substansi, dan tes kesehatan. Tes psikologi tertulis dilakukan seharian penuh dari pagi sampai sore dan panitia menyediakan makan siang. Saya merasa cukup kesulitan dalam mengerjakan tes psikologi tertulis, terutama di bagian hitung-menghitung serta Pauli – menjumlahkan angka-angka di halaman sebesar koran, dan rasa percaya diri yang selama ini kuat mulai memudar pada tahapan ini.
Sedikit tips, bahwa sebenarnya tes psikologi tertulis dapat “difabrikasi atau diakali”, kuncinya adalah dengan latihan soal-soal tes psikologi yang banyak beredar toko buku maupun di internet. Walaupun hasilnya tidak akan mencerminkan 100% kondisi psikologi diri kita, tapi dengan latihan yang tepat, hasilnya bisa jauh lebih baik dari kondisi kita yang sebenarnya, yang membuat kesempatan kita untuk diterima bekerja menjadi semakin tinggi.
Pauli misalnya, jika kita sudah terbiasa berlatih menjumlahkan angka-angka, pasti kita akan dengan mudah mengerjakannya dengan cepat. Selain itu, ada tes Wartegg, atau tes menyelesaikan gambar. Jika kita sudah berlatih sebelumnya, kita tidak akan bingung ketika diminta untuk meneruskan gambar. Kita akan lebih cepat dalam menyelesaikan dan hasil gambar bisa maksimal karena sudah dipersiapkan sebelumnya.
Beberapa hari kemudian saya mengikuti tes wawancara psikologi. Saya diwawancarai oleh seorang Bapak-Bapak – sepertinya anggota TNI, dengan gaya bicara yang sangat kaku. Saya ditanya mengenai pengalaman kerja, pengalaman tinggal di luar negeri, dan pertanyaan seperti, “Terobosan apa yang dapat anda buat jika anda diterima sebagai PNS di Kementerian Luar Negeri?”
Well, sebagai seorang LS, saya menjawab berdasarkan pengalaman saya di KBRI Yangon dan menjelaskan mengenai apa-apa saja yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan, karena saya membayangkan budaya kerja di KBRI tidak akan terlalu berbeda dengan budaya kerja di Kemlu. Saya kemudian berpikir, bagaimana orang-orang tanpa pengalaman kerja di KBRI dapat menjawab pertanyaan seperti ini? Pasti mereka jenius semua.
Saya juga cukup terkejut ketika saya ditanya mengenai hasil tes psikologi tertulis saya yang mungkin kurang meyakinkan. Hasil tes Pauli saya tiba-tiba diletakkan di atas meja dan si Bapak bilang, “Kamu lambat… Satu halaman saja tidak selesai… Kenapa ini? Kamu susah konsentrasi ya?”
Sontak saya langsung jawab dengan nada yang sedikit ketus, “Pak, saya dari dulu memang lemah dalam berhitung, makanya saya lambat, dan karena itu saya memilih Jurusan Hubungan Internasional yang tidak ada hitung-menghitungnya”. Saya dalam hati memang mengakui bahwa saya kurang berlatih untuk Pauli, karena memang sangat melelahkan.
Si Bapak hanya manggut-manggut dan tidak lama setelah itu saya dipersilakan keluar. Setelah wawancara psikologi itu, mental saya sedikit drop. Melihat ekspresi si Bapak itu saya jadi tidak yakin bahwa saya akan diterima. Tapi saya terus berdoa.
Beberapa hari kemudian saya harus menghadapi ujian yang menurut saya paling berat yaitu wawancara substansi. Saya dan Tanto mendapatkan giliran wawancara pada hari yang berbeda. Tanto mendapatkan giliran awal dan dia tampak sangat pede dan puas terhadap hasil wawancaranya.
Saya pun menanyakan hal-hal yang terjadi di ruang wawancara kepada Tanto dan dengan semangat ia menceritakan semua yang terjadi ketika wawancara.
Hari H telah tiba. Jadwal tes saya pukul 13.00, tapi karena tidak ingin terlambat karena kemacetan di Jakarta, saya kembali dipinjami mobil Bude Sri dan berangkat awal ke Pusdiklat Kemlu. Agak terlalu awal sebenarnya, karena saya sudah tiba di lokasi ujian pukul 11. Betapa kagetnya saya ketika panitia meminta saya untuk langsung masuk karena kebetulan ruang wawancaranya sedang kosong, sehingga saya tidak harus menunggu hingga pukul 13.00.
Saya pun masuk ke ruang wawancara. Di dalam seharusnya ada 3 orang pewawancara, namun saat itu hanya ada 2 orang: 1 orang pejabat aktif Kemlu, dan satu orang Duta Besar yang telah purnatugas (saya tahu beliau seorang Duta Besar karena selain sudah tua, Bapak yang satunya selalu manggil beliau “Pak Dubes”). Satu orang lagi dari kalangan akademisi mungkin sedang istirahat, namun wawancara tetap dilanjutkan walau hanya dengan 2 orang pewawancara.
Sebenarnya papan nama para pewawancara terpampang jelas di meja, namun ketika masuk ruangan, karena gugup, pandangan saya benar-benar kabur dan tidak sempat membaca papan nama siapa-siapa yang mewawancarai saya.
Setelah berbasa-basi sebentar, kata-kata “Please tell me about yourself…” terlontar dari Pak Dubes. Dengan full Bahasa Inggris, saya menjelaskan bahwa saya seorang LS Fungsi Politik di KBRI Yangon.
Pertanyaan selanjutnya pun berkaitan dengan Myanmar di mana saya yakin dapat menjawab dengan akurat, bahkan saya yakin bahwa para pewawancara tidak akan se-update saya jika berbicara mengenai Myanmar karena sayalah yang terus mendapatkan first-hand experience selama menjadi LS Fungsi Politik di KBRI Yangon sehingga seringkali mereka hanya manggut-manggut ketika saya menerangkan.
Saya sedikit cemas ketika topik beralih mengenai skripsi saya di mana saya membahas mengenai “Fortress Europe, Integrasi Uni Eropa dan Kekhawatiran Negara-Negara Non-Anggota Uni Eropa”.
Saya baru menjelaskan sedikit mengenai skripsi saya dan tiba-tiba saya dipotong oleh Pak Dubes di mana saya dikuliahi mengenai sejarah hubungan Uni Eropa dan ASEAN. Setelah itu, topik beralih mengenai proses reformasi di Indonesia, penanganan korupsi, permasalahan di Laut Cina Selatan, dan yang terakhir yang sempat membuat saya speechless, yaitu mengenai relevansi Gerakan Non-Blok dengan perkembangan dunia saat ini.
Beberapa kali saya coba menjawab tetapi selalu di-counter hingga pada suatu saat saya tergagap hingga benar-benar terdiam. Jawaban yang sebenarnya pun tidak disampaikan oleh para pewawancara hingga akhirnya wawancara selesai dan saya dipersilakan keluar.
Saya pun keluar ruangan facepalming, tidak ingin melihat wajah siapa pun di lokasi ujian, langsung masuk mobil dan pergi menghibur diri – makan dan belanja di Pondok Indah Mall. Ketika itu saya benar-benar pasrah, tidak ada lagi ambisi.
Namun rangkaian tes masih belum selesai. Beberapa hari setelah tes wawancara substansi saya mengikuti tes kesehatan yang diadakan di RSPAD Gatot Subroto. Sampel urine dan darah diambil, dilakukan ronsen paru-paru, cek penyakit dalam, serta diminta mengerjakan tes MMPI (psikiatri).
Tes kesehatan tidak dapat diremehkan. Banyak yang datang tes kesehatan dengan “apa adanya”. Namun tidak dengan saya. Saya mempersiapkan diri untuk mengikuti tes kesehatan ini dari awal diberi tahu bahwa akan ada seleksi CPNS. Saya menjaga makanan – utamanya menjaga angka gula dan kolesterol, menjaga berat badan, serta rajin berolahraga agar memperoleh hasil yang baik pada tes kesehatan.
Setelah rangkaian tes final selesai, saya kembali ke Myanmar yang kebetulan sedang sibuk dengan agenda SEA Games ke-27 sehingga saya terus sibuk bekerja hingga tidak terlalu memikirkan hasil tes saya. Kebetulan sekretaris pribadi Bapak Dubes sedang cuti sehingga sayalah yang harus mendampingi Bapak Dubes selama kegiatan SEA Games di Myanmar. Entah bagaimana awal mulanya, namun ketika saya sedang berada di dalam mobil dengan Bapak Dubes, saya memperoleh “wejangan” dari Bapak Dubes yang akan selalu saya ingat, “nDaru, kamu bekerja saja sebaik mungkin, semampu kamu, jangan berharap pujian dari saya, saya tahu kok kerja kamu, balasan pasti akan datang, tapi bukan dari saya”. “What does Pak Dubes imply?” dalam hati saya.












