Hadiah Tahun Baru Terindah
Pada tanggal 30 Desember, Mas Bugi, sepupu saya di BKN tiba-tiba mengirimkan ucapan selamat bahwa hasil tes dari Kemlu telah dikirimkan ke Kemenpan RB dan nama saya masuk ke dalam daftar yang lulus. Saat itu saya belum 100 persen percaya. Dalam hati saya, “Ah, masa iya saya diterima?” Saya belum memberi tahu siapa-siapa sebelum ada pengumuman resmi.
Akhirnya pada tanggal 31 Desember sore, pengumuman resmi keluar dan saya ternyata benar-benar lulus. Saya langsung sujud syukur dan menemui semua rekan saya di KBRI Yangon untuk mengucapkan terima kasih atas semua doa dan dukungannya. Kabar gembira juga langsung tersiar ke Bapak Dubes hingga ucapan selamat diberikan kepada saya melalui pidato tahun baru yang disampaikan oleh Bapak Dubes pada malam harinya, di hadapan seluruh WNI yang hadir pada acara malam doa bersama menyambut tahun baru 2014 yang diadakan di IISY. Benar-benar ini merupakan hadiah tahun baru terindah bagi saya.
Di tengah keriaan, saya merenung, apakah ini sebuah hasil nyata dari wejangan Bapak Dubes kepada saya? Yang jelas wejangan tersebut akan selalu saya pedomani, di mana pun dan kapan pun, dalam bekerja saya akan berusaha sebaik mungkin, semampu saya, tanpa berharap pujian.
Setelah perayaan tahun baru usai, secepat mungkin saya menyelesaikan urusan administrasi di KBRI Yangon dan saya diberhentikan secara hormat dari tugas saya sebagai LS Fungsi Politik. Saya sangat bangga dan bersyukur dapat menjadi bagian dari keluarga besar KBRI Yangon yang telah memberi saya bimbingan serta dukungan hingga saya dapat diterima sebagai seorang CPNS di Kemlu.
Namun, saya cukup sedih ketika mengetahui Tanto, teman seperjuangan saya tidak lolos. Namun saya tetap menyemangatinya dan yakin bahwa dia akan mendapatkankan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya.
Bersih dan Transparan
Masih banyak orang yang mengira kalau proses penerimaan CPNS Kemlu masih syarat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) atau harus membayar mahal. Di sini saya tekankan bahwa sama sekali tidak ada unsur KKN pada proses penerimaan CPNS di Kemlu dan Kemlu tidak menarik biaya sepeser pun pada proses seleksinya. Sistem rekrutmen Kemlu telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008 dengan proses yang memenuhi standar internasional, bersih, transparan, berdasarkan kompetisi dan kompetensi.
Walaupun demikian, saya harus mengatakan bahwa biaya yang saya keluarkan selama proses seleksi tidaklah sedikit. Banyak biaya yang harus ditanggung sendiri yang pada beberapa kondisi seperti saya jatuhnya cukup mahal, seperti biaya pengiriman dokumen melalui DHL dari Myanmar, transportasi saya bolak-balik dari Myanmar (dan Jogja), serta biaya pembuatan surat keterangan sehat dan surat keterangan bebas narkoba dari rumah sakit.
Namun semua itu tidak ada yang masuk ke kantong Kemlu karena itu semua merupakan keperluan pribadi untuk dapat mengikuti tes.
Kembali ke Indonesia
Setelah acara tahun baru, saya sibuk mengurus kepulangan saya. Dalam waktu hanya 3 hari, saya menjual banyak barang saya yang tidak mungkin saya bawa ke Indonesia, seperti TV, hometheater, dan isi flat lainnya. Bahkan beberapa barang saya hibahkan, termasuk mobil, sebuah Toyota Crown biru tahun 1990 yang saya serahkan secara cuma-cuma ke Joko, sahabat saya, seorang guru tari di IISY. Itu bagian dari nadzar saya, apabila saya diterima di Kemlu saya akan menghibahkan mobil saya kepada teman yang membutuhkan. Flat saya diambil alih oleh Iqbal, rekan saya sesama LS, dan Bu Santhi saya pesankan untuk membantu Iqbal kedepannya.
Pagi hari di tanggal 4 Januari 2014, waktunya saya untuk terbang meninggalkan Yangon. Bangga rasanya bahwa Bapak Dubes juga seluruh keluarga besar KBRI Yangon turut ke bandara untuk melepas saya. Di bandara, pada awalnya suasana serba senang, serba riang, tidak ada rasa sedih, yang ada hanya kegembiraan. Tiba-tiba Bu Santhi muncul, berlinang air mata. Gara-gara melihat Bu Santhi menangis, sayapun jadi ikut menangis, dan semua yang mengantar di bandara juga jadi ikut menangis. Saya tidak akan melupakan kebaikan Bu Santhi.
Ketika waktu boarding tiba, seperti mimpi rasanya, perjuangan selama 2 setengah tahun di Myanmar tidak sia-sia. Saya akan menjadi seorang diplomat sesuai dengan cita-cita saya.












