Laporan Pak Tani dari Konser HUT Amerika di Philadelphia: Tiba-tiba Chaos Kami Pun Pilih Sembunyi di Bawah Panggung

oleh
[ngg src=”galleries” ids=”32″ display=”basic_slideshow”]

PHILADELPHIA|DutaIndonesia.com – Salah seorang diaspora Indonesia di Kota Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, Syarif Syaifulloh, tak akan pernah melupakan peristiwa konser musik dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Amerika (Independent Day) 4 Juli 2022 lalu. Syarif yang biasa disapa Pak Tani Philadelphia karena dikenal sebagai penggerak pertanian organik di Kota Philadelphia, ketika itu tengah menonton kemeriahan konser bersama keluarganya. Tiba-tiba chaos terjadi. Rusuh.

Sebagai seorang Youtuber, Pak Tani tak melewatkan kesempatan membuat konten untuk channel Youtube-nya. Dia langsung membuat laporan khusus di mana keluarga Pak Tani tengah berada di area konser musik di Philadelphia tersebut. Subscriber Pak Tani pun bisa ikut merasakan suasana mencekam konser tersebut.

“Seperti biasa, tampak acara begitu meriah, saya datang bersama keluarga untuk menyaksikan Pesta Kembang Api. Walau kami datang telat, tapi karena mempunyai tiket masuk jadi bisa menyaksikan secara langsung acara konser tersebut. Suasana cukup tertib, awalnya, setelah acara konser selesai, para penonton masih tetap berada di depan panggung. Saat itulah saya membawa anak-anak bergeser 10 meter ke samping panggung untuk lebih jelas menyaksikan pesta kembang api. Walau suasana gelap karena memang kami berada di area pohon-pohon besar, saat itu saya mengabadikan pesta kembang api, tapi tiba-tiba dari arah depan kami, dengan skala kecil masyarakat berlarian tanpa arah, karena kondisi memang agak gelap, maka banyak yang jatuh lalu bangun, jatuh bangun, saat itu pula saya sudah berpikir bahwa pasti ada yang tidak beres,” kata Pak Tani kepada DutaIndonesia.com.

Melihat gelagat tidak baik, lalu Pak Tani memutuskan kembali ke depan panggung untuk bergabung bersama istrinya, Hani White. Suasana sudah mulai tenang sehingga Pak Tani kembali lagi ke posisi yang ditempati semula.

Namun itu tidak lama. Selang beberapa menit kemudian tiba-tiba datang kembali penonton dengan skala besar ke arah Pak Tani dan keduanya anaknya berada.

“Ternyata datang dari depan panggung. Seketika itu pula keadaan chaos, semua panik, banyak orang lari tunggang langgang. Anak kami menangis mencari uminya, karena saya juga sempat panik, terlebih mendengar denduman suara gelegar dari kembang api. Maka saya pegang ke dua anak saya, lalu lari ke arah yang saya juga nggak tahu. Pokoknya lari. Menjauh. Karena keadaan gelap maka saya juga tidak tahu ke mana larinya. Karena banyak pagar pagar penghalang,” ujarnya.

Saat itu Pak Tani langsung telepon istri tapi ternyata tidak diangkat. Dan, karena suasana berhamburan ditambah aparat kepolisian sudah datang meminta semua orang menjauh dari area konser, suasana pun jadi makin mencekam.

“Termasuk saya juga disuruh keluar, saya tetap bertahan dan saya beritahu ke polisi yang berjumlah 5 orang lebih, dengan 2 wanita yang memang mengawal anak-anak saya,” katanya.

Tak lama kemudian istri saya mengirim SMS. Isinya: “Hati-hati ada penembakan. Umi di bawah panggung, di bawah kamera.”

Seketika itu pula Pak Tani menyampaikan ke Polisi memberi tahu posisi sang istri. Lalu 5 polisi pun mengikutinya dan anak-anak mencari uminya. Saat sampai di lokasi pun Pak Tani berteriak-teriak mencari istrinya tapi sang istri tidak menjawab.

“Setelah polisi juga teriak memberitahukan bahwa di luar ada polisi, baru istri saya keluar. Ternyata saat di bawah panggung bukan hanya istri saya saja, tapi ada sekitar 20 orang juga berlindung di sana,” katanya.

Banyak pelajaran yang dapat diambil oleh Pak Tani dari peristiwa yang pertama kali dia alaminya ini. Saat chaos diusahakan jangan panik, tapi cepat mencari perlindungan. Saat sampai di konser Pak Tani bersama istri sudah berdiskusi jika terjadi apa-apa yang dilakukan adalah masuk ke bawah panggung, yang memang jarak 2 meter, atau naik ke pohon di belakang lokasi menyaksikan konser.

“Fungsi pohon sebagai pelindung jika ternyata orang berlarian bisa langsung naik ke atas. Pohon tersebut memang tidak besar tapi bisa dijadikan alternatif pelindung, di mana di atas banyak cabang-cabangnya. Dan juga HP jangan sampai mati, fungsinya untuk komunikasi. Dan kami juga menghindari nonton di tengah, terlebih banyak bangku bangku lipat, jika terjadi apa-apa akan sulit lari karena terhalang bangku-bangku. Belum nanti orang yang akan saling bertabrakan, ternyata apa yang sudah saya diskusikan terjadi benar. Suasana chaos di mana ribuan orang lari berhamburan,” ujarnya.

Setelah lolos dari kekacauan itu, Pak Tani dan keluarganya pun pulang walau acara pesta kembang api masih berlangsung.

“Semoga sharing saya bermanfaat dan berguna. Terima kasih juga yang telah menonton video kami dan Subscribe, Like, Komen, Share serta Tekan Tanda Lonceng untuk terus mengikuti berita liputan dari Kabar Amerika TV langsung dari lapangan. Salam Pak Tani,” katanya. (gas)

SAKSIKAN LIPUTAN PAK TANI DARI LOKASI KONSER:

YouTube player

No More Posts Available.

No more pages to load.