Bahkan, karena dokter gigi di Hongkong tarifnya mahal, tiba-tiba ada yang mengaku sebagai dokter gigi. Buka praktik di hotel kelas murah seperti hotel melati serta berpindah-pindah lokasi. Namun peminatnya juga cukup banyak.
“Memang ada teman yang terbantu. Orang ini mendatangkan bahan-bahan praktik dokter gigi itu dari Indonesia. Tapi entah kenapa kemudian digerebek. Mungkin ada teman sesama kita yang lapor, sebab anak-anak kadang jahat juga. Saya mengalami sendiri,” katanya.
Saat itu, kata dia, dirinya membuka toko dan warnet. Namanya Kafe Blitar. Ini warnet pertama di Hongkong yang buka sepuluh tahun lalu. Ada 200 komputer. “Sambil bekerja saya buka usaha warnet. Saat itu saya gampang pusing sehingga banyak menyediakan obat yang biasa diminum seperti panadol feminax dll. Lalu ada embak-embak mau beli feminax, tapi kemudian saya beri saja. Eh, besok paginya jam 10 saat saya buka toko, langsung datang petugas Departemen Kesehatan merazia saya sambil menuduh saya menyimpan obat-obatan terlarang.”
“Saya membantah tapi mereka tak percaya saat saya bilang obat itu untuk saya konsumsi sendiri. Yang aneh petugas itu tahu di mana tempat saya menyimpan obat tersebut. Petugas itu langsung menuju laci mengambil obat itu. Saya langsung berpikir, pasti yang lapor embak tadi. Kok cik mentolone sesama WNI di perantauan, ditolong malah mentung. Kalau mata-mata petugas, kok ya tego-tegone sesama WNI. Tapi saya kira dia dijebak. Saya akhirnya didenda sebab mereka pikir saya cari duit dengan menjual obat, padahal obat itu untuk kebutuhan saya dan anak-anak PMI di sini. Kalau mereka sakit minta obatnya ke saya,” katanya. (*)














