Selalu Bersyukur
Gaji Entin bekerja di restoran donat cukup besar untuk ukuran Indonesia. Gajinya Rp 15 juta per bulan. Untuk kerja selama 8 jam setiap hari Senin sampai Jumat. Dia harus terus berdiri sebab tidak mungkin pekerjaan ini dilakukan dengan duduk. Hasilnya sebagian untuk membantu suami membayar keperluan rumah tangga di mana untuk keperluan keluarga 80% dicover suami, 20% lainnya dari gaji Entin.
“Saya bilang ke suami, separonya gaji saya untuk saya bikin baju ya!? Suami saya setuju saja. Di situlah saya lagi-lagi sangat bersyukur memiliki suami yang pengertian, sebab bisa saja dia minta lebih. Yang membuat saya terenyuh, suami saya malah berniat nyambi ngojek online, bertahun-tahun akhirnya dia ngojek supaya dapat tambahan uang untuk keluarga dan uang gaji saya bisa dipakai full untuk berbisnis,” katanya.
Bukan hanya soal uang. Entin juga belajar dengan sangat keras dan tentu harus pula cerdas. Uang tidak menjadi kendala baginya untuk belajar menjadi desainer. Asal ada kemauan, cita-cita yang tinggi, pasti Allah SWT memberi jalan untuk menggapainya. Karena itu, kerja keras harus pula dibarengi dengan doa agar Tuhan memberi pula semangat untuk mewujudkannya.
Banyak anak-anak muda berpikiran salah dalam menggapai cita-cita. Mereka hanya berpikir soal modal. Mereka merasa harus sekolah fashion desain yang biayanya tentu sangat mahal. Apalagi bila harus sekolah di sekolah mode fashion yang sudah terkenal. Pasti merasa tidak mungkin. Ciut nyali. Akhirnya drop seakan tidak ada jalan. Padahal, Tuhan memberinya potensi yang luar biasa besar, tapi butuh semangat besar pula untuk mengeksplorasinya. Itulah yang kemudian dilakukan oleh Entin.
Maka, ketika sadar diri dia tidak mempunyai uang untuk sekolah fashion desain, Entin harus belajar keras. Otodidak. Berguru pada buku dan siapa pun yang bisa membuatnya bisa menjadi desainer. Bukan sekadar desianer, tapi desainer yang sukses.
“Saya belajar sendiri, belajar di perpustakaan yang banyak buku yang beberapa di antaranya ada buku fashion desain. Perpustakaan yang ada di kampus sebuah universitas ternama di sini. Di sana disediakan pula print-prinan, saya print materi-materi soal fashion desainer. Sampai sekarang masih saya simpan. Saya file. Gratis semua. Jadi, otodidak pun bisa mengantar seseorang menggapai cita-cita. Dan memang, akan lebih baik jika ada guru atau mentornya,” katanya.
Baca Berita Terkait:
Sementara teman-temannya sesama warga Indonesia di Kanada, mereka kaya-kaya, rumah mewah, liburan ke Eropa, pakaian mewah. Gayanya bak selebritas. Hal itu membuat Entin minder. Seperti bumi dan langit.
Mereka sering mengajak Entin kumpul kumpul, tapi dia selalu berusaha menghindar. Dengan berbagai alasan. Agar pertemanan tetap bisa berjalan.
“Saya beralasan sibuk, tapi sejatinya saya minder. Atitude saya berubah sejak tinggal di Kanada, sebab dulu saya suka sekali nge-mall, suka karaoke, nongkrong, sebab punya uang sendiri. Ya, masa -masa bebas punya uang. Tapi begitu ke Kanada berubah 100%, finansial kekurangan, punya 5 anak, di mana yang dua orang anak suami tapi masih menjadi tanggungan suami dan tinggal di tempat saya setiap Sabtu dan Minggu sewaktu saya awal-awal membangun bisnis. ini. Hanya saja, kalau sekarang sudah dewasa, sudah kuliah, sudah tinggal sendiri. Jadi saya ada waktu lebih untuk berkarya,” katanya.
Entin memandang semua kesulitan hidupnya selama di Kanada itu sebagai berkah. Bisa dibayangkan bila dia hidup enak dan hobi berfoya-foya. Pasti dia tidak kreatif. Ujung-ujungnya tidak bisa meraih sukses.
“Alhamdulillah, saya lebih kreatif, lebih bertanggung jawab. Saya berpikir, kalau suami saya kaya, mungkin tidak sekreatif ini, hanya ongkang-ongkang. Jadi, sekali lagi, saya bersyukur. Saya mengumpulkan uang mulai 2016, dan inilah hasilnya, yang akan selalu saya syukuri,” katanya. (*)














