Terhindar Kejahatan
Salah satu lokasi yang sangat berkesan adalah saat kami berdua keliling Maroko. Sebagai pelancong perempuan yang membawa anak kecil, saya sering diingatkan bahaya kejahatan di negara tujuan. Namun saya bersyukur tidak pernah mengalami kejadian, misalnya, kecurian atau kecopetan. Bahkan, banyak kejadian di Maroko yang membuat saya takjub. Seakan ada keajaiban.
Saya tidak sengaja menyapa seseorang dalam pesawat. Dia orang Jerman, yang sering banget pergi ke Maroko. Terus melihat saya cewek bersama anak kecil, orang Jerman itu bilang hati-hati banyak kejadian kejahatan di Maroko. Banyak orang yang dia kenal di Maroko mengalami kasus pencurian. Mereka menyebut Kota Marrakesh paling rawan.
Nah, saat mengunjungi Marrakesh, saya pun pergi ke Jemaa El Fna. Ini tempat sangat terkenal di Kota Marrakesh. Semacam pasar malam, Jemaa El Fna menyajikan berbagai masakan khas yang menggugah selerah bagi para turis. Mulai makanan pembuka seperti siput dengan bumbu pedas, makanan utama seperti domba panggang bumbu rempah, hingga sandwich dengan porsi besar.
Paling terkenal domba dan ayam panggang disajikan dengan semangkuk sup hangat. Selain itu ada pula sosis pedas atau ikan bakar rempah yang disajikan dengan semangkuk buncis panggang. Lalu berbagai hiburan, di antaranya para peramal, pendongeng, hingga penari tradisional, yang beraksi untuk menghibur para pengunjung. Tapi banyak cerita orang sering kecopetan di destinasi wisata ini. Hanya saja saya santai saja.
Saya lihat ada toko sepi pembeli di kota ini. Saya melihat ada sepatu kulit yang saya suka dipajang di rak. Terus saya tanya harganya dan menawarnya. Dari harga 500 dirham saya bisa tawar menjadi 150 dirham. Namun, karena tokonya sepi saya tanya lagi apa sudah banyak sepatu yang terjual? Pemilik toko bilang, bahwa saya orang pertama yang membeli pada hari itu. Terus saya bilang, sepatunya saya bayar 250 dirham saja karena saya kasihan tokonya sepi. Dia pun tersenyum.
Lalu saya keluar membawa sepatu. Sesudah sekitar sepuluh meter melangkah, saya dipanggil-panggil. Ternyata dompet saya ketinggalan. Saya cek isinya lengkap. Semua credit card saya dan uang 1.000 Euro tidak ada yang kurang. Saya mau kasih si pemilik toko uang tips. Tapi dia gak mau. Amazing kan? Katanya dia tahu, saya orang baik.
Terus di dalam pasar itu juga, saya dan anak pernah dipepetin sekelompok anak remaja 5 orang. Saya menduga mereka geng copet. Saya sudah merasa ketakutan. Tas saya kempit rapat. Saya dekap. Mereka sudah siap beraksi. Namun tiba-tiba ada kakek-kakek bertopi haji yang menjaga toko langsung memanggil saya dan anak saya. Dia menyuruh kami masuk ke tokonya. Bukan hanya itu, kakek itu lalu mengusir lima anak muda itu dalam bahasa Arab. Anak-anak remaja itu langsung pergi. Di situ saya merasa amazing dan percaya akan karma.
Mungkin, ini karena sewaktu ke Maroko, saya banyak membawa baju bekas anak saya yang masih bagus dan saya memberikannya ke anak-anak di desa terpencil pada daerah terakhir di padang pasir. Saya juga membeli botol air kemasan yang banyak sewaktu ke gurun Sahara. Dan di sana setiap kali bertemu pengembara yang sudah pasti kehausan tidak ada air, saya memberikan air dalam kemasan itu kepada mereka.
Selama di Maroko kami mengunjungi 14 kota. Total jalan yang kami lalui sepanjang 3.564 km, menghabiskan uang bensin 1.250 dirham, membayar tol total 220 dirham. Belum termasuk kampung dan kota yang sekedar numpang lewat, pipis atau sekedar istirahat makan.
Kami memulainya dari Kota Tangier karena saat membeli tiket paling murah adalah yang dari Tangier. Ada alasan lainnya, saya menempatkan Kota Biru Chefchaouen sabagai target utama saya yang harus dikunjungi dan hanya dari Tangier cara termudah. Dengan memilih lewat Tangier duluan akhirnya saya benar-benar bisa keliling Maroko dengan puas. Kalau memilih first city enter-nya lewat kota lain duluan, saya yakin belum tentu saya menginjakkan kaki di Kota Tangier ini. (Bersambung)











