Selain itu, Diklat Sekdilu memberikan gambaran bagipara peserta Diklat bahwa jenjang karir seorang diplomat sangatlah panjang, bermula sebagai seorang Diplomat Pertama, Diplomat Muda, Diplomat Utama, dan Diplomat Madya, dengan 8 jenjang kepangkatan diplomatik yang harus dilalui sebelum mencapai puncak yaitu:
- Atase;
- Sekretaris III;
- Sekretaris II;
- Sekretaris I;
- Counsellor;
- Minister Counsellor;
- Minister; dan
- Duta Besar.
Panjang bukan? Rata-rata semua diplomat ingin mencapai karir tertinggi sebagai Duta Besar. Untuk mencapai hal itu, Diklat Sekdilu menjadi fondasi dasar bagi seluruh calon diplomat untuk melangkah ke jenjang karir ke depan.
Apakah Diklat yang diikuti oleh seorang diplomat hanya Sekdilu saja? Tidak. Untuk dapat naik jenjang kepangkatan diplomatik dari Sekretaris II ke Sekretaris I, seorang diplomat harus mengikuti Sekolah Staf DinasLuar Negeri (Sesdilu); kemudian untuk naik dari Counsellor ke Minister Counsellor, seorang diplomat harus mengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan Luar Negeri (Sesparlu).
Apakah selama Diklat sudah digaji? Tentu sudah! Tapi besarannya hanya 80% dari gaji pokok PNS, ditambah stipend sebesar Rp 500 ribu per bulan. Para peserta Diklat benar-benar harus menahan godaan untuk tidak sering jajan ataupun belanja, mengingat lokasi Diklat berada di dekat pusat perbelanjaan mewah, sementara pemasukan yang didapat tergolong kecil. Namun para peserta Diklat memperoleh makan 3 kali sehari di asrama, jadi sebenarnya tidak ada yang patut dikeluhkan.
Taskap
Mengikuti pendidikan Sekdilu seperti kembali ke bangku kuliah. Pada bulan-bulan terakhir Sekdilu, para peserta diminta untuk menyusun Kertas Kerja Perseorangan (Taskap), seperti menyusun skripsi, dengan berkonsultasi dengan seorang Duta Besar senior yang menjadi pembimbing Taskap. Saya mendapat kehormatan dibimbing oleh Ibu Duta Besar Artauli Tobing, Duta Besar RI untuk Vietnam periode 2004-2007. Beliau membantu dalam penulisan Taskap saya berjudul “Peran Sekolah Indonesia Luar Negeri dalam Peningkatan Diplomasi Budaya. Studi Kasus: Indonesian International School Yangon (IISY)”.
Saya memilih kasus itu karena merasa mudah mendapatkan bahan memanfaatkan koneksi yang saya miliki di Myanmar dan juga pengetahuan saya mengenai IISY, antara lain saya banyak dibantu oleh Bapak Sirdjanul Ghufron, Kepala Sekolah IISY saat itu, dan Joko, guru tari di IISY.











