Komunitas Muslim Indonesia di Luar Negeri: Sebuah Introspeksi

oleh
Imam Shamsi Ali (Foto: CNNIndonesia)

Self Criticism

Namun demikian, alangkah pentingnya untuk menyadari bahwa di balik semua kelebihan dan kebanggaan sebagai bangsa, khususnya sebagai Komunitas Muslim Indonesia yang hidup di luar negeri, ada juga kekurangan-kekurangan yang perlu dikritisi dan diperbaiki.

Kekurangan ini dalam pandangan saya bukan bagian dari karakter dasar Umat dan Kebangsaan. Tapi lebih kepada dorongan buruk (nafs amarah) yang kerap masih mendominasi kehidupan komunal (jama’i) anak-anak bangsa, termasuk Komunitas Muslim di luar negeri.

Tanpa tendensi memburuk-memburukkan, tapi lebih kepada “self introspection” dan “self correction” di sini saya sampaikan sebagian dari kelemahan dan keburukan yang kerap terjadi pada Komunitas Muslim Indonesia di mancanegara, termasuk Amerika

Pertama, diakui atau tidak, disadari atau tidak, Komunitas Muslim Indonesia seringkali mengalami penyakit “minder” yang cukup kronis. Hal ini cukup berdampak pada wawasan dan kerakter hidup di tengah masyarakat Amerika dan dunia yang heterogen.

Penyakit minder (inferiority complex) itu adalah sebuah fenomena kejiwaan yang merasa tidak mampu, lemah bahkan kalah. Penyakit ini dengan sendirinya mengantar kepada sikap apatis, pasif, bahkan kecenderungan putus asa.

Kedua, Komunitas Muslim Indonesia seringkali mengalami penyakit “don’t care” (tidak peduli). Mereka tahu bahwa mereka punya tanggung jawab besar dalam banyak hal. Tapi mereka seolah melarikan diri dari tanggung jawabnya.

Salah satu penyebab utama dari sikap “no care” ini adalah karena visi hidup yang terkadang terbatas pada kehidupan yang bertujuan personal. Bagi sebagian mereka ada di Amerika yang penting ada kerjaan dan aman secara finansial. Urusan Komunitas itu bukan urusan saya.

No More Posts Available.

No more pages to load.