Kisah Perjalanan Diplomat Muda Indonesia (Bagian 3): Menjadi LS KBRI Yangon

oleh
arya daru
Arya Daru Pangayunan, Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires.

Selama satu bulan saya tinggal di Guest House dan setelah satu bulan baru dapat pindah ke flat. Kebetulan ada guru IISY bernama Pak Slamet yang sudah selesai masa tugasnya. Saya ditawari untuk tinggal di flatnya dan membeli seluruh isi flatnya. Saya setuju dengan syarat saya bisa minta Bu Santhi, pembantunya Pak Slamet, untuk lanjut membantu saya selama saya tinggal di Myanmar.

Saya pun pindah ke flatnya Pak Slamet, hanya memindahkan badan saja. AC, pemanas air, tempat tidur, sprei, lemari, gorden, kulkas, kompor, hingga alat makan sudah siap semua. Flatnya terdiri dari dapur, ruang TV, 1 kamar mandi, dan 2 kamar – kamar tidur saya dan kamar satunya adalah kamar Bu Santhi.

Bu Santhi: Ibu Saya di Yangon

Bu Santhi merupakan sosok yang luar biasa yang saya anggap sebagai Ibu sendiri. Bu Santhi adalah orang Myanmar keturunan India yang umurnya sekitar 50 tahun dan tidak menikah. Bu Santhi sudah lebih dari 30 tahun mengabdi dengan orang Indonesia di lingkungan KBRI sehingga Bahasa Indonesianya lancar dan masak masakan Indonesianya juga jago. Bu Santhi beragama Katholik, rajin ke gereja, namun karena tahu saya Islam, setiap pagi kamar saya digedor mengingatkan saya untuk Sholat Subuh. Bu Santhi juga rajin membantu membersihkan Masjid Indonesia di dalam kompleks.

Untuk kemampuan masak, saya sampai terkaget-kaget, karena pada minggu pertama saya tinggal di flat, Bu Santhi memasakkan siomay, pempek, rawon, yang rasanya bisa diadu, bahkan lebih enak dari buatan orang Indonesia. Bu Santhi luar biasa baiknya dan rajin kerjanya. Selama saya di sana, saya diperlakukan seperti anaknya sendiri dengan penuh kasih sayang. Bu Santhi bahkan tidak segan-segan memarahi saya ketika mendapati saya merokok.

Pernah suatu ketika saat saya sedang suntuk, saya menyalakan rokok di flat. Bu Santhi menghampiri dan meneriaki saya, “Bapak! Matikan rokoknya! Santhi tidak mau lihat Bapak merokok! Kalau Santhi lihat Bapak merokok lagi, Santhi pergi, tidak mau bantu Bapak lagi!” Mau tidak mau saya harus menurut sama Bu Santhi dan jadi “anak yang baik”.

Setelah hidup mandiri selama kos di Kelapa Gading, justru di Myanmar saya kembali hidup manja karena ada Bu Santhi. Sekalipun saya tidak pernah menyentuh kompor karena Bu Santhi rajin masak. Saya juga sekalipun tidak pernah menyentuh cucian karena semua sudah dibereskan oleh Bu Santhi. Baju selalu tergantung rapih di lemari. Berangkat kerja sepatu saya selalu dalam keadaan tersemir. Setiap pulang kerja kondisi flat saya sangat bersih, wangi, dengan teh hangat yang selalu siap di meja. Saya sangat beruntung dibantu oleh Bu Santhi. Berkat Bu Santhi, saya selalu memenangkan lomba kebersihan flat yang diselenggarakan setiap tahun. Bu Santhi pun tampak bangga piala bergilir lomba kebersihan selalu ada di flat kami.

No More Posts Available.

No more pages to load.