Bertemu Sahabat Lama di Negeri Singa
Saya terbang dari Yangon ke Singapura menggunakan Golden Myanmar Airways. Namun, dari Singapura saya tidak langsung terbang ke Indonesia. Saya menyempatkan diri untuk singgah di Singapura untuk bertemu dengan sahabat saya sejak jaman Sekolah Menengah Pertama (SMP), Erwin.
Flashback ke jaman SMP, saya dan Erwin adalah teman satu kelas di SMP 8 Yogyakarta. Karena rumah kami searah, saya dan Erwin sering berangkat ke sekolah bersama naik sepeda, padahal jarak rumah kami ke sekolah lumayan jauh. Erwin yang rumahnya di Setan (bacanya stan), Maguwo, selalu menghampiri saya di Seturan lalu kami berangkat bersama ke sekolah yang jaraknya lebih dari 7 kilometer dari rumah saya. Terkadang jika salah satu dari kita tidak membawa sepeda, kami berboncengan, salah satu mengayuh sepeda, salah satu duduk di frame atau dalam Bahasa Jawa sering disebut “planthangan” sambil memegang setang kemudi. Petualangan kami dengan sepeda tidak ada habisnya, beberapa kali kami bersepeda hingga ke Kaliurang, ke ujung akhir Selokan Mataram, bahkan kami pernah bersepeda sampai Pantai Parangtritis.
Di bangku kelas 2 SMP, kelas kami terpisah, saya di 2-7, Erwin di 2-8, tapi lucunya berbeda kelas membuat kami semakin akrab, karena kami jadi bisa saling “membocorkan” soal-soal ulangan karena waktu pelajaran yang berbeda.
Kami juga membentuk sebuah band yang kami namai “Spyderband”. Saya tidak yakin kenapa band kami dinamakan demikian, mungkin karena Erwin suka Spiderman dan saya sering pakai baju Spyderbilt. Saya pegang gitar, Erwin pegang drum, anggota band kami yang lain juga dari teman-teman satu angkatan, ada Citra yang pegang keyboard, Elmi pegang gitar juga, dan Novel sebagai vokalis. Kami beberapa kali tampil ketika sekolah mengadakan kegiatan pentas seni.
Di bangku kelas 3 SMP, saya dan Erwin kembali bergabung di kelas yang sama dan kali ini semakin kompak. Yang membuat kami harus berpisah adalah ketika kami diterima di SMA yang berbeda. Karena nilai Ujian Nasionalnya lebih tinggi, Erwin diterima di SMA 8 Yogyakarta, sementara saya di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Meski beda SMA, kami tetap sering nongkrong bareng dan tetap kompak. Bahkan ketika menerima pengumuman penerimaan perguruan tinggi, kami merayakan bersama dengan nongkrong bareng di McDonald’s Kotabaru Yogyakarta. Sementara saya diterima di HI UGM, Erwin diterima di Jurusan Teknik Arsitektur UGM. Walau beda minat, beda jurusan, namanya sahabat, kami selalu dekat.
Lulus bangku kuliah, Erwin menjadi arsitek di salah satu konsultan arsitektur di Singapura. Karena itulah, sepulang saya dari Myanmar, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Erwin di Singapura.
Setelah selesai urusan imigrasi dan mengambil bagasi, Erwin sudah menunggu di pintu kedatangan. Kami naik taksi ke apartemen Erwin, menaruh barang-barang, lalu kami berkeliling Singapura, termasuk berfoto di patung Merlion yang ikonik. Saya bermalam di apartemen Erwin.
Hari berikutnya, yaitu tanggal 5 Januari merupakan hari yang spesial, karena hari itu adalah hari ulang tahun Erwin. Erwin bela-belain cuti di tanggal itu. Lucunya, bukan saya yang memberi kejutan untuk Erwin, tapi Erwin yang memberi kejutan untuk saya. Saya diminta ikut dia naik MRT, ujung-ujungnya sampai ke Pulau Sentosa dan Erwin dengan muka cengar-cengir mengeluarkan 2 tiket untuk masuk ke Universal Studios. Senang bukan main rasanya. Karena bukan hari libur, antrian di wahana-wahana tidak ada yang panjang sehingga dalam setengah hari saja kami bisa menaiki hampir semua wahana di Universal Studios.
Tentu saya juga harus memberikan sesuatu di hari ulang tahun Erwin. Setelah puas bermain di Universal Studios, saya membeli 2 tiket untuk merasakan sensasi menaiki Singapore Flyer, kapsul pengamatan setinggi 165 meter di dekat Marina Bay. Ini juga merupakan kejutan untuk Erwin, karena selama beberapa tahun tinggal di Singapura belum pernah menaiki Singapore Flyer.
Saya tinggal 1 malam lagi di apartemen Erwin dan keesokan harinya saya terbang ke Jogja dengan maskapai Air Asia. Tidak henti-hentinya saya bersyukur, setelah mendapat pengumuman lulusnya saya menjadi seorang CPNS di Kemlu, mendapatkan kesempatan bersenang-senang dengan sahabat saya di Singapura, lalu mendapat kesempatan berkumpul kembali bersama keluarga di Jogja. Sungguh kenikmatan yang luar biasa. (Bersambung)
- Arya Daru Pangayunan adalah Sekretaris Ketiga Fungsi Politik di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili (2018-2020); dan Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires (2020-sekarang).
- Naskah ini diambil dari dutanusa.com seizin penulisnya, Arya Daru Pangayunan.











